Piringmu Tanggung Jawabmu !
PREK ! Nina meletakkan piring bekas makan siangnya di bak cuci
piring. Setelah itu cepat kembali ke depan televisi. Tapi….
“Nina !” Ibu menghampiri Nina.
“Ya Bu.”
“Mulai hari ini ada
peraturan baru di rumah kita!” ujar ibu. “Piringmu tanggung jawabmu.
Artinya, cuci
piringmu sendiri setelah makan.”
“Yach ibu??” Nina protes.
“Kenapa, Ibu kan sudah
mengajarkan cara mencuci piring yang baik. Nah sekarang waktunya
mempraktekkannya. Kamu pasti bisa !” tegas ibu.
Sambil menggerutu Nina mengambil spons dan sabun. Ia lalu mencuci
piringnya tadi. Mudah sekali pekerjaan itu sebenarnya.
Sudah beberapa hari
peraturan itu dijalankan. Nina makin tak suka karena peraturan itu tidak
berlaku bagi Nesya adiknya. Nina iri pada Nesya. Malam ini ia harus mencuci
piring bekas makan malamnya. Di saat mencuci, ia melihat Nesya meletakkan
piring bekas makannya di dapur, lalu pergi begitu saja.
“Heh Dik, cuci piringmu sendiri dong,” Nina sewot. Tapi Nesya
malah tertawa.
“Huh, nggak adiiil !” gerutu Nina.
“Ibuuu... kenapa Nesya tidak disuruh cuci piring,” protes Nina.
“Nesya masih kecil Nina!” ibu memberi alasan.
Di sekolah Nina menceritakan peraturan itu pada
teman-temannya. Rara dan Ana terkejut.
“Masak sih. Ibuku tak pernah menyuruhku mencuci piring. Habis
makan ya aku taruh saja piringku di meja makan,” jawab Ana.
“Di rumahku cuci piring tugas Mbak Ningsih!” Rara menyebut nama asisten rumah tangga keluarganya.
“Berarti peraturan baru di rumahku itu sangat
berlebihan !” gumam Nina kesal.
Nina baru pulang dari sekolah. Ibu tampak rapi,
kelihatannya hendak pergi.
“Nina, ibu mau pergi sebentar, tunggu di rumah dan jaga adikmu
ya. Nanti ibu bawakan
oleh-oleh deh !” kata ibu
membuat Nina senang. Tapi setelah itu,
“Nina, makan siang ada di meja. Jangan lupa cuci piringmu
sendiri…!”
“Huh !” Nina sewot. Karena lapar Nina langsung
makan. Tapi setelah itu ia menaruh piringnya begitu saja. Cuci piringnya
entar aja deh saja !”pikirnya malas.
Nina mengerjakan PR, Nesya asyik main game komputer . Bel pintu berbunyi.
Nina cepat membuka pintu. Bu Arman tetangga sebelah rumah berdiri di pintu. Bu
Arman mengantarkan semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.
” Terima kasih, Bu !” ujar Nina sambil menerima pemberian itu.
Nina tak suka bubur kacang hijau. Jadi ia membiarkan
saja Nesya melahap bubur itu sampai habis. Sebentar saja, mangkuk telah
kosong. Nesya meletakkan mangkuk kosong di meja. Tiba-tiba Nina merasa
iri.
“Nes cuci mangkuknya dong. Kamu kan yang makan !” Tak
disangka Nesya dengan senang hati membawa mangkuk itu ke bak cuci. Bunyi
air kran mengalir. Cukup lama kadang diselingi tawa kecil Nesya. Ah Nesya
rupanya sedang keasyikan main air sambil cuci mangkok.
“Tuh Nesya bisa, “pikir Nina sambil menggerutu.
Tiba-tiba….“PRANG !”
Nina terkejut. Ia lari ke dapur. Ternyata mangkuk milik Bu Anwar
pecah. Di depan bak cuci piring Nesya menangis sambil memegangi ujung
jarinya yang berdarah. Nina panik. Ia tak menemukan obat untuk luka Nesya. Nina
segera berlari ke ujung jalan. Di sana ada warung sekaligus toko kecil. Nina
bertemu dengan Nino, anak pemilik warung dan toko itu.
“Tunggu, aku ambilkan obatnya.” kata Nino dengan tangan berlumuran
busa.
“Cepat ya !” pinta
Nina. Saat menunggu, pandangan Nina tertuju pada sesuatu. Di hadapannya
ada bak besar berisi banyak piring dan gelas. Oh rupanya Nino sedang membantu
ibunya mencuci piring dan gelas para pembeli di warung nasi ibunya. Nina seketika
malu. Mencuci piring makan sendiri saja, ia malas. Apalagi jika disuruh mencuci
piring sebanyak Nino.
Setelah menerima obat
Nina pulang. Ia merasa bersalah pada adiknya. Tak seharusnya ia iri pada Nesya
yang baru berumur 5 tahun.
“Duh, bagaimana cara mengatakannya pada ibu ?” Nina bingung.
Dalam perjalanan pulang Nina berjanji tak akan malas lagi mencuci piringnya
setelah makan. Piringmu, tanggung jawabmu, “ serunya.
Hikmah cerita
Cucilah sendiri piringmu sesudah makan, ya. Tidak susah kok, yang penting hati-hati supaya tidak pecah. Ayah dan ibu akan senang karena kita menjadi anak yang bertanggung jawab
Iri hati itu adalah salah satu penyakit hati yang berbahaya. Qabil Putra Nabi Adam membunuh saudaranya Habill akibat rasa dengki dan iri.
Comments
Post a Comment