Lima Menit Yang Lalu
Reta punya kebiasaan buruk. Ia selalu menunda mengerjakan tugas-tugasnya. PR seminggu lalu, dikerjakannya saat esok harinya PR itu harus dikumpulkan. Belajar untuk ulanganpun selalu mendadak. Untung saja Reta cukup pintar. Ia bisa mengerjakan PR dan belajar dengan baik meski dalam waktu singkat. Tapi justru itulah masalahnya. Reta jadi meremehkan tugas-tugasnya, sebab ia yakin bisa menyelesaikannya dengan baik. .
Disamping itu Reta juga suka menunda hal lainnya. Saat orang
tuanya meminta tolong, Reta tak mengerjakannya dengan segera. Kemarin Ibu
meminta Reta membeli sekilo gula di warung Pak Nasir. Reta tak menolak, tapi
seperti biasa ia menjawab, “Sebentar, Bu. Lima menit lagi !
Ibu cukup sabar untuk menunggu. Tapi lima menit telah berlalu,
Reta tak juga keluar dari kamarnya. “Lima menit lagi deh Bu. Janji
!” teriaknya lagi. Reta baru nongol setelah ibu mengetuk pintu kamarnya
berulang-ulang. Reta keluar dengan wajah cemberut sambil tangannya menggenggam
handphone. Khawatir toko Pak Nasir akan segera tutup, ibu meminta Reta
untuk bergegas.
“Uh, memangnya kenapa ? Kalau toko Pak Nasir tutup, beli aja di
toko Bu Yuni atau Mbak Asih,” pikir Reta santai.
Reta punya kelompok belajar di sekolah. Mereka belajar berpindah
tempat secara bergantian. Minggu ini giliran belajar di rumah Reta. Selain
belajar mereka juga akan mengerjakan tugas ketrampilan yaitu membuat kotak
mainan dari kardus.
“Aku saja yang membeli kertas hiasnya. Di dekat rumahku ada kok,
“Reta menawarkan diri. Devi dan Ana tampak ragu. Mereka tahu kebiasaan buruk
Reta.
“Tapi jangan sampai tak membelinya, nanti kita tak jadi
mengerjakan tugas itu, ” Devi dan Ana mengingatkan. “Beres, “ jawab
Reta.
Hari Minggu tiba. Ibu telah menyiapkan kue-kue, untuk teman Reta
yang akan datang pagi ini. Meskipun teman-temannya akan datang pukul
9, Reta belum membeli kertas hias untuk tugas mereka. Reta tampak tenang-tenang
saja. Di dekat rumahnya ada beberapa penjual kertas hias. Nanti sebelum
Devi dan Ana datang, ia akan pergi ke sana untuk membelinya, begitu rencananya.
Tiba-tiba telpon berdering. Ayah dan ibu panik setelah menutup
telpon itu.
“Reta, Paman baru saja mengabarkan Bibi sedang dirawat di rumah
sakit. Kami harus menjenguknya sekarang juga. Tidak apa kan
kau sendiri saja di rumah ?” tanya ibu.
Tentu Reta tak keberatan. Ia terbiasa sendirian di
rumah. Lagipula pagi ini temannya akan datang. Jadi akan ada yang
menemaninya. Tapi ayah kelihatan bingung. Sepertinya agak berat meninggalkan
rumah.
“Reta, bisakah ayah minta tolong padamu ? Jam 9 nanti teman ayah
dari luar kota akan datang. Ia membawa dokumen penting untuk ayah. Teman
ayah itu sangat tepat waktu. Jadi jam 9 ini kau harus berada di rumah,
supaya bisa menerima dokumen itu.
“Tidak masalah , ayah, ” jawab Reta.
Ayah dan ibu pergi tepat pukul 8 pagi. Sambil menunggu
kedatangan temannya Reta nonton acara kesukaannya di televisi. Reta
ingat kalau ia belum membeli kertas hias itu. Tapi Reta pikir masih ada
cukup waktu untuk membelinya sebelum teman-temannya muncul. “Lagipula
Toko tante Wulan belum buka jam segini,” pikir Reta menyempurnakan
kemalasannya.
Reta makin asyik nonton TV. Saat jam menunjukkan pukul
8.15, ia berkata “Ntar deh 5 menit lagi.” Saat jarum jam bergerak ke 8.30, Reta
pun masih menunda untuk pergi ke toko Tante Wulan. Begitulah seterusnya.
Saat jam menunjukkan pukul 9 kurang 10 menit, Reta baru meloncat dari
sofa.
Reta bergegas ke toko tante Wulan. Karena toko itu dekat saja,
ia yakin bisa pulang kembali sebelum jam 9. Tapi Reta terkejut bukan main,
setiba di sana ia melihat Rumah dan toko Tante Wulan tertutup rapat.
“Tante Wulan baru saja pergi. Ia menutup tokonya lima menit yang
lalu,” jelas tetangga Tante Wulan. Reta masih tetap tenang. Ia ingat
toko Pak Akbar yang juga menjual kertas hias. Toko Pak Akbar juga tak
terlalu jauh. Reta bergegas pergi ke toko Pak Akbar. Tapi sesampai disana…
“Maaf sudah habis. Ada yang membelinya lima menit yang lalu, “
kata Pak Akbar. Kali ini Reta benar-benar kebingungan. Toko Bu Arni
adalah harapan terakhirnya. Toko itu cukup jauh dari rumahnya. “Tapi
kalau aku tak membeli kertas hias itu, Devi dan Ana akan marah.” Reta pun nekad
pergi ke toko Bu Arni.
“Wah sayang sekali Nak, lima menit yang lalu, anak ibu baru saja
mengambilnya untuk tugas sekolah, ” sesal Bu Arni.
Reta pulang dengan
langkah gontai. Kedatangannya disambut wajah jengkel Devi dan Ana. Mereka telah
menunggu lama di depan pagar. Reta minta maaf karena belum membeli kertas hias.
Devi dan Ana sangat kecewa mendengarnya.
“Barusan ada teman
ayahmu datang. Tapi sekarang sudah pergi. Lima menit yang lalu.”
“Apa ?” Reta ingat
tamu yang dimaksud ayah yang akan datang jam 9 pagi. Haduh, Reta pusing tujuh
keliling. Bagaimana caranya mengatakan pada ayah.
Duh Reta benar-benar
menyesal. Lima menit ternyata sangat berharga@@@
Hikmah Cerita
Kalau kau suka tepat
waktu, berarti kau telah menggenggam satu kunci kesuksesan. Sebab orang yang
menghargai waktu mengerjakan lebih banyak hal dari orang yang tidak menghargai
waktu, sebab ia tak mau waktunya berlalu sia-sia.
QS Al Ashr, mengajak
kita untuk memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya. Mengisinya dengan kebaikan,
agar tidak jadi orang yang rugi
Comments
Post a Comment