Melepas Topeng Frengky

 


Vito sedang memberi susu  kucingnya, saat Aldi mengajaknya pergi.  Kata Aldi ada tontonan   di lapangan Kampung.        

“Cepetan To, nanti bubar !” Aldi menarik lengan Vito. Lapangan kampung kian dekat. Terdengarlah  sorak dan  gendang   berirama cepat. Mereka tiba di kerumunan dan langsung ikut menonton. Topeng monyet! Hati Vito berdebar.

Seekor monyet kecil memakai helm melompat ke atas motor dari kayu. Tali yang mengikat lehernya dihentakkan dengan keras oleh seorang lelaki berkumis. Wuss ! Monyet  meluncur bak seorang pembalap. Penonton bersorak. 

Tiba di tepi lapangan, laki-laki berkumis menarik tali panjang di leher monyet. Monyet tersentak. Berbalik meluncur ke tengah lapangan. Monyet terjatuh. Namun cepat berdiri saat tali lehernya dihentakkan. Pertunjukan selesai,  monyet yang terikat itu berkeliling membawa kaleng kosong. Orang-orang melempar uang  ke dalamnya.

“Kereen. Kalau datang  lagi, kita nonton ya,” seru Aldi. Vito  menggeleng.”Ogah ah. Monyet itu selalu diikat dengan tali. Ditarik kesana-kemari. Pasti sakit sekali. ”

 “Kan cuma monyet. “

 “Apa katamu ? Cuma monyet ? Monyet juga merasakan sakit kayak kita,” Vito geram.

 “Wah... maaf,”  ralat Aldi. Ia baru ingat  Vito adalah penyayang binatang. Vito punya banyak hewan peliharaan.Rumahnya seperti kebun binatang saja. Vito rutin membawa mereka ke Dokter Gun, dokter hewan di kampung mereka.

Seminggu berlalu. Vito masih teringat  monyet kecil itu.  Ia berharap topeng monyet itu datang lagi.Vito bukan ingin menontonnya. Ia hanya ingin memberi monyet itu pisang.  Waktu terus berlalu. Topeng monyet itu tak datang juga.  Hingga pada suatu hari...

“Vitoo.... ada topeng monyet ......!”

Itu suara Aldi. Aldi  berdiri di depan rumah Vito. Vito masih memakai seragam. Ia baru pulang dari sekolah.

“Oiya ?” Vito senang campur cemas.

“Topeng monyet  itu datang lagi. Di sana di lapangan... !

“Ayo kita kesana !” seru Vito.

Vito seketika berlari ke lapangan. Ia  lebih cepat dari Aldi.

Dung dung dung dung dungg. Gendang ditabuh.  Penonton bersorak. Vito masuk kerumunan. Itu mereka ! lelaki berkumis dan monyet kecilnya. Hup, tali dihentakkan. 

Monyet kecil meluncur di atas motor seperti pembalap. Hup ! Tali dihentakkan, monyet berjalan membawa pikulan.  Hup, tali dihentakkan, monyet kini memasang topeng di mukanya. Mengambil keranjang dan  berputar-putar. Panas kian menyengat.

Oh, ada apa gerangan. Monyet itu tiba-tiba bergerak lamban. Jalannya sempoyongan. Lelaki berkumis  segera mengakhiri pertunjukan. Monyet itu tidak lincah lagi. Laki-laki berkumis mendorongnya untuk  berkeliling membawa kaleng, meminta imbalan sukarela dari penonton. Monyet itu tampak menahan sakit.      

Monyet tiba di depan Vito. Vito tidak membawa uang. Tiba-tiba Vito mendapat ide.“Om, saya ambil uang dulu di rumah. Rumah saya dekat kok.”

“Cepat !“ jawab laki-laki berkumis. Vito segera membisikkan sebuah siasat pada Aldi. Aldi  paham. Ia lalu berlari ke  arah yang berbeda dengan Vito.

Vito kembali  sambil membawa uang dan tiga buah pisang. Penonton sudah pergi. Vito memasukkan uang ke dalam kaleng.

“Ini pisang untuk monyetnya.  Namanya  siapa Om!” tanya Vito.

“Frengky !”jawab lelaki berkumis itu pendek.

“Oh Frengky,”Vito nyengir. Vito  cemas melihat lelaki itu berkemas. Ia menunggu Aldi. Aldi harus datang sebelum topeng monyet pergi.  Mereka siap pergi...

“Tunggu !” Terdengar teriakan. Vito lega.   Aldi  datang bersama DokterGun. Lelaki berkumis ketakutan saat Dokter Gun bicara padanya. Dokter Gun  membawa monyet itu ke tempat teduh dan memeriksanya. Ia memakai sarung tangan dan membawa tas peralatan.

“Dia mungkin sakit atau kelelahan dan lapar,”kata Dokter Gun. “Pertunjukan Topeng Monyet sudah dilarang di negara kita. Yang melanggar bisa dihukum. Namun masih ada saja yang melanggar. "

"Monyet-monyet itu mendapat perlakuan kasar dan tidak dipelihara dengan baik. Akibatnya sejumlah  monyet terserang  penyakit berbahaya yang bisa menular kepada manusia, ”lanjut dokter Gun.

“Monyet ini akan dibawa kemana Dok ?”tanyaVito.

“Dirawat dulu, setelah itu saya akan menyerahkannya pada petugas yang berwenang  menangani. Monyet ini akan dilepas di habitat yang sesuai untuknya. “

Dokter Gun melepas topeng di wajah Frengky. Frengky  tampak sangat lelah.   Vito lalu berbisik, “Cepat sembuh Frengky, nanti aku bawakan pisang yang banyak untukmu.”***

Cerita seru lainnya :

Si Tukang Olok-olok

Pak Titus Pelit

gambar : kumparan.com

Hikmah Cerita

Islam adalah agama  rahmatan lil’alamin. Menebarkan rahmat dan kasih sayang pada alam semesta, termasuk di dalamnya binatang yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Kita menyayangi binatang adalah sebagai salah satu bentuk taat pada perintah Allah SWT.

Comments