Sebagai anggota tim
redaksi majalah sekolah, Alen selalu gatal mencari berita. Bila bepergian
kemana saja, ia selalu membawa smartphone. Untuk memotret dan mencatata
kejadian penting.
Pagi ini Alen sangat bersemangat. Ibunya mengajak berkunjung
ke kampung Sawah selama tiga hari. Kampung Sawah tempat yang istimewa bagi
Alen. Mereka pernah tinggal di sana sebelum akhirnya pindah ke kota dua tahun
yang lalu.
Alen punya banyak kenangan di tempat itu. Diantaranya adalah
sekolahnya yang sederhana. Meski sangat sederhana, sekolah itu memiliki
guru-guru yang baik. Pak Titus adalah salah seorang guru yang sangat
dihormati Alen.
Kampung Sawah semarak
sekali. Umbul-umbul warna-warni berkibar di sepanjang jalan. Poster-poster
berbagai ukuran menempel di berbagai tempat. Suasananya benar-benar tidak
biasa.
"Ada pemilihan
kepala kampung hari Minggu lusa," jelas Yanto menjawab keheranan Alen.
Yanto adalah mantan teman sekolah Alen.
"Wah ini baru
berita," Alen berlari menuju pos ronda. Naluri pencari beritanya kambuh.
Banyak poster menempel di dinding pos ronda. Ia membacanya. Alen
menemukan pengumuman yang memuat nama tiga calon kepala kampung. Alen agak
terkejut saat mengeja nama calon di tempat ketiga.
"Titus Wicaksono. Ini Pak Titus guru kita di sekolah ?" tanyanya.
"Ya, Pak Titus yang
itu. Para guru yang mencalonkannya."
"Wah semoga Pak
Titus yang terpilih, beliau kan guru yang baik," harap Alen.
"Itu impossissi bel Len," cetus Yanto dengan bahasa Inggris yang
belepotan." Pak Titus bukan calon favorit di sini. Aku seandainya sudah
cukup umur untuk ikut pemilihan, nggak akan memilih Pak Titus
deh !"
"Hah ??!"
Kenapa ?" Alen heran sekali.
"Pak Titus itu pelit. Selain itu juga aneh. Beda dengan calon
lainnya."
Alen sangat gusar mendengar penjelasan Yanto. Bagaimana mungkin Pak Titus
dibilang pelit. Alen masih ingat betul. Pak Titus pernah membelikannya buku
pelajaran saat orangtua Alen tak punya uang. Tapi kenyataannya Yanto mengatakan
hal yang sebenarnya. Di segenap penjuru Kampung Sawah, Alen tak menemukan
poster dukungan untuk Pak Titus. Nama Pak Titus tenggelam dalam hingarbingar
dukungan untuk calon lain.
"Aku harus
menyelidiki hal ini !" tekad Alen dalam hati.
Alen memanfaatkan waktunya yang sempit dengan sebaik-baiknya. Ia mewawancarai
teman-teman sekolahnya dulu. Teman-teman Alen terpesona sebab gaya Alen
bertanya seperti wartawan sungguhan.
"Benar Len Pak Titus itu memang pelit. Lihat saja rumahnya selalu
remang-remang kalau malam. Pak Titus cuma menyalakan sedikit lampu saja.Lampu
ruang tamunya baru dinyalakan kalau ada tamu." Jawab Anna.
"Tidak cuma itu. Kalau menugasi murid membuat laporan yang diketik di
kertas, Pak Titus minta supaya kami menggunakan dua sisi kertas
bolak-balik. Kan nggak rapi jadinya. Pokoknya pak Titus itu benar-benar pelit.
Padahal harga kertas kan sangat murah." Dika melengkapi jawaban Anna.
Alen
tak hanya bertanya pada teman-temannya, ia juga berani bertanya pada beberapa
orang dewasa. Beruntung Alen telah mengenal mereka dengan baik.
"Pak Titus itu orang aneh. Masak menyuruh penduduk menanam singkong. Harga
singkong kan sangat murah. Mana bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk."
Aduh, Alen sungguh bingung dengan semua ini. Ia tak yakin Pak Titus seburuk
itu. Tapi Alen tak mau mempercayai pendapat itu begitu saja. Ia berniat
untuk mengunjungi pak Titus di rumahnya.
Rumah Pak Titus terletak di pinggir kampung. Seperti kebanyakan rumah penduduk
di daerah itu rumah Pak Titus punya halaman yang luas. Pak Titus menanaminya
dengan singkong. Saat Alen berkunjung ke sana. Pak Titus sedang panen singkong.
Singkong-singkong itu setelah dicabut diangkut oleh sebuah truk besar.
"Kamu Alen kan ?" tanya Pak Titus. Alen mengangguk. Ia senang Pak
Titus masih mengenalnya.
"Mana mungkin bapak
lupa pada murid yang pandai dan selalu ingin tahu seperti kamu Alen," ujar
Pak Titus membuat alen tersipu.
"Bapak baru panen singkong ya. Mau dibawa kemana singkongnya Pak. Dijual
ke pasar ya ?" pancing Alen.
"O tidak, singkong ini akan dibawa ke pabrik pengolahan bioetanol."
"Bioetanol?"
"Ya. Bioetanol adalah bahan bakar ramah lingkungan yang saat ini
sedang digalakkan pemerintah. Bumi kita ini sudah sakit parah oleh
polusi udara. Kita perlu bahan bakar alternatif yang lebih ramah
lingkungan.Singkong adalah salah satu pilihan."
"Tapi singkong sangat murah Pak, tidak menguntungkan untuk ditanam."
"Hey siapa bilang, harga singkong akan naik bila bioetanol sukses. dan itu
bisa meningkatkan pendapatan petani singkong."
Alen sangat terpukau dengan penjelasan pak Titus. Ia kemudian berterus terang
tentang maksud kunjungannya. Ia juga bercerita tentang sebutan pelit dan aneh
yang ditujukan pada pak Titus. Pak Titus tertawa mendengarnya. Beliau tak marah
sedikitpun.
"Bapak memang berusaha menghemat pemakaian listrik. Disamping hemat
bayarnya, kita juga mengurangi pemborosan energi. PLN masih menggunakan minyak
bumi dan batu bara sebagai bahan bakar utamanya. Keduanya adalah bahan bakar
yang tidak ramah lingkungan, disamping itu akan segera habis bila kita
boros."
"Terus mengenai kertas ?"
"Wah-wah, apa kau selalu ingin tahu begini ?"
Alen tersenyum.
"Pikirkanlah berapa
banyak pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas
manusia."jawab Pak Titus dengan nada bijak.
Alen manggut-manggut kini
ia mengerti maksud tindakan Pak Titus.
"Setelah ini saya akan sampaikan apa yang bapak katakan pada teman-teman
dan penduduk di sini. Supaya bapak menang dalam pemilihan kepala kampung
nanti."
"Tidak perlu Nak.
Bapak melakukannya karena menyayangi bumi ini. Bukan karena ingin terpilih
sebagai kepala kampung lho."
Alen sangat senang. Pertemuannya dengan Pak Titus ditutup dengan makan singkong
rebus bersama. Ini hari yang membanggakan bagi Alen. Duduk dan mengobrol
bersama guru sekaligus seorang pencinta lingkungan @
Comments
Post a Comment