Stiker Penyelamat





Nenek  Usi kena flu berat, padahal beliau memiliki mini market yang harus tetap buka setiap hari. Nenek  Usi bermaksud menutup mini marketnya, namun..

“Biarkan kami yang menjaga selama nenek sakit,” ujar Riko, Ima dan Yudi cucu nenek UsiNenek Usi tersenyum, ia sangat percaya pada  ketiga cucunya itu.

“Tapi aku minta hadiah Nek,” ujar Ima.

“Hadiah ?”

“Ya. Aku ingin stiker We Bare Bears yang dijual nenek. Stiker beruang super imut itu,” kata Ima. Ima memang sedang senang mengumpulkan stiker.

“Oh boleh saja, ambil saja di toko ya,” sahut Nenek Usi.

“Huh, belum bekerja sudah minta hadiah,” ledek Riko.

Esoknya sepulang sekolah Riko, Ima, dan Yudi mulai bertugas. Mereka mendapat penjelasan dari Nenek Usi. Baru beberapa jam  mereka sudah lelah. Pembeli di mini market   mengalir seperti air.  Sungguh mengagumkan Nenek Usi  yang selama ini menjaga mini market  seorang diri.

“Selamat siang Bu, selamat belanja,” sapa Yudi pada seorang ibu yang baru saja masuk. Ibu itu menuju  rak mengambil  pasta gigi. Ibu itu tampak terkejut. Pasta gigi kemudian dikembalikannya lagi . Hal yang sama terjadi saat ia mengambil mentega.

“Pasta gigi dan mentega ini sudah kadaluarsa,” katanya.  Ima memeriksanya. Astaga perkataan ibu tadi benar. 

Pak Bob pemasok barang  datang. Ia membawa  botol kecap, saus, minuman dalam kemasan dan masih banyak lagi lainnya. Anak-anak  memeriksa tanggal kadaluarsanya. Semua barang itu masih baru. Tanggal kadaluarsanya masih lama.  

Seorang laki-laki berkumis tebal masuk sambil  bersiul riang. Ia memakai jaket. Badan lelaki itu  gemuk sekali. Yudi, Ima, dan Riko tersenyum geli.

“Endut,” bisik Yudi.   

“Hush, tidak baik mengolok-olok orang,” Ima berbisik pula.

Lelaki itu rupanya mendengar bisik-bisik Ima dan Yudi. Ia mendengus. Ima dan Yudi terdiam.

Lelaki itu cukup lama berpindah dari satu rak ke rak yang lain. Hmm, pasti dia membeli banyak barang, pikir Ima. Namun tebakan Ima meleset. Laki-laki itu hanya membeli sebotol kecil saus tomat.   Berbeda dengan Ima, Riko justru memikirkan hal yang lain.

Lelaki itu  pergi dengan langkah yang  berat. Sepeninggal lelaki itu Riko memeriksa rak tadi sambil membawa catatan persediaan barang.  Bagi Riko tingkah lelaki itu agak mencurigakan. Namun kecurigaan Riko tidak terbukti. Jumlah barang di rak  tidak berkurang. Artinya laki-laki itu tidak mencuri apapun.

Seorang pembeli datang lagi.“Wah, kok sudah kadaluarsa,” ibu  itu memegang sebotol kecap sambil mengeluh. Ia tidak jadi membeli.

Hah ! Ima, Riko dan Yudi terkejut. Mereka memeriksa barang di rak dan menemukan banyak barang yang kadaluarsa. Mereka makin terkejut. Dua dari lima botol kecap yang kemarin baru datang juga mendadak kadaluarsa.

“Aku ingat betul, Kecap ini masa kadaluarsanya  masih dua tahun lagi, tukas Riko yakin.

“Aneh,” gumam Yudi.

Siang ini Riko terlambat datang ke mini market. Ia mengerjakan tugas kelompok dulu bersama temannya. Ima dan Yudi sudah berada di minimarket. Dengan bersepeda Riko pergi ke mini market. Di jalan ia berpapasan dengan seseorang.

“Lelaki gemuk di mini market !” pekik Riko mengenali lelaki berkumis itu.  Tapi seketika ia merasa heran. Ada yang aneh dengan laki-laki itu.

Riko cepat mengayuh sepedanya ke mini market. “Teman-teman, kita punya banyak pekerjaan hari ini,” teriaknya.  Riko menjelaskan maksudnya, lalu bertiga mereka segera bergerak. Tapi wajah Ima tampak cemberut. Kenapa ya ? Ketiganya berkeliling dari rak ke rak sambil melakukan sesuatu dengan sangat teliti.

“Halo, selamat sore,” lelaki gemuk datang lagi. Kali ini anak-anak menyambutnya dengan sikap ramah yang agak berlebihan.

“Silakan Pak,” seru anak-anak kompak.

Mini market sedang sepi.  Lelaki itu untuk beberapa saat  mondar-mandir di rak. Riko memberi kode pada Ima dan Yudi agar menjauh dari lelaki itu. Riko ingin lelaki itu bisa berbelanja dengan bebas.

 Anak-anak   tak tahu apa yang dilakukannya di sana. Seperti sebelumnya lelaki itu akhirnya hanya membeli satu buah sabun batangan.Lelaki itu pergi, Riko mengajak Yudi untuk membuntutinya. Sementara Ima tetap tinggal di mini market.

Lelaki itu berhenti dan masuk ke sebuah toko kelontong. Toko itu terletak di luar kompleks tempat tinggal nenek. Riko meminta Yudi  untuk menunggu beberapa saat. Setelah cukup lama, barulah Riko dan Yudi  masuk ke dalam toko tersebut. Lelaki itu terkejut melihat mereka.   Yudi pun demikian. Ia terkejut  saat melihat badan   lelaki itu mendadak kurus !

Mau beli apa ya ?” tanya lelaki itu berusaha bersikap tenang. Ia adalah pemilik toko itu.

“Minyak goreng, mi instan, sabun,” kata Yudi asal. Dadanya berdebar-debar.

 

Saat Yudi berbicara dengan lelaki itu, mata Riko meneliti barang-barang yang dipajang di toko kelontong itu. Aha ! ia menemukan sesuatu. Satu...dua...tiga...empat...!

Yah, ini saatnya mengungkap kebenaran ! tekad Riko.

“Bapak mengambil barang-barang dari toko kami !” teriaknya tegas.

“Apa ? Enak saja menuduh sembarangan, ”lelaki itu berang.

“Bapak menukar barang baru di sana dengan barang kepunyaan bapak yang sudah kadaluarsa,” ujar Riko dengan suara yang makin lantang.

“Apa buktinya ?” lelaki itu marah.

Riko lalu menunjukkan tanda berupa stiker super kecil bergambar kepala beruang mungil yang menempel pada botol kecap, botol saus, kaleng sarden, mentega, dan botol shampo yang dipajang di meja toko kelontong.

“Ini tanda khusus yang kami tempelkan pada barang-barang di toko kami.” Riko menunjuk stiker We Bare Bears yang menempel di kemasan kecap, shampo, saus, sarden. Lelaki itu terkejut melihatnya.

“Ini  barang milik mini market nenek.  Kami telah menandai semua barang di sana agar siapapun yang menukarnya akan ketahuan. Tadi bapak ke mini market  nenek. Menukar barang  yang masih baru dengan barang yang kadaluarsa. Bapak sembunyikan barang itu  ke dalam baju, sehingga bapak tampak gemuk.”

Lelaki itu gelagapan. Ia tak bisa mengelak lagi. “Baiklah aku mengaku.  Tokoku sepi. Banyak barang yang kadaluarsa karena lama tidak terjual. Maafkan aku.

Nenek Usi sudah sehat kembali.  Nenek Usi geli melihat hampir semua barang di mini marketnya ditempeli dengan stiker We Bare Bears.

“Riko mengapa kau yakin lelaki itu yang menukar barang nenek ?” tanya Yudi.        

“Pulang sekolah aku tak sengaja bertemu dengan lelaki berkumis itu di jalan. Aku heran. Badannya tidak segemuk saat ia datang kesini. Jadi kupikir tubuh gemuknya itu pasti hanya buatan. Ia menyembunyikan sesuatu  di balik jaketnya.”

“Kalian cucu nenek yang hebat,” puji nenek bangga.

“Tentu saja Nek,” seru anak-anak sambil tertawa.

“Tapi  stiker We Bare Bearsku  habis Nek,” keluh Ima.

“Jangan kuatir, nanti Nenek masih punya banyak stiker lainnya.”

“Asyik. Terima kasih Nek,” Ima bertepuk gembira.

Hari ini anak-anak minta izin untuk pulang cepat. Tangan mereka capek setelah menempelkan stiker We Bare Bears pada banyak barang di mini market nenek dan melepasnya kembali sore itu.

Nenek tentu saja tak keberatan @


Hikmah Cerita

Kecerdikan dan kekompakan akan menghasilkan kekuatan yang hebat.

Mencuri adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh agama. 

Al Qur’an bahkan memberi peringatan tegas pada orang yang melakukannya.

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah 

tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka 

kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa 

lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38)



Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky