Tas Bolong Ica

Di pojok sebuah toko kecil, tas itu digantung. Hampir tak kelihatan karena terhimpit tas-tas sebelahnya yang lebih besar yang penuh hiasan dan pernak-pernik. Kalau tak membolak-balik deretas tas yang dipajang dengan sabar, Ica tak akan  menemukan tas itu. Ica langsung menentukan pilihannya  saat melihat sebuah tas kain polos berwarna merah. Selain suka warnanya, harga tas itu juga tidak mahal. Mungkin karena bentuknya yang sederhana serta  tak punya pernak-pernik.

Sebuah ide segera muncul di benaknya. Dan ia segera mewujudkannya setiba di rumah.  Ica yang pandai menggambar segera menggambar bunga Melati di atas  tas barunya. Ibu kemudian menyulam bunga yang indah itu dengan benang warna putih yang dibeli dengan harga murah di pasar.  Tapi semua itu adalah kenangan tiga tahun yang lalu. Saat tas kain merah milik Ica satu-satunya itu baru saja di beli.

Ica menatap sedih tas kainnya  yang kini teronggok di tangan ibu. Bukan karena warnanya yang telah pudar atau jahitan di beberapa tempat yang membuatnya sedih, tapi sebuah lubang menganga di bagian sulaman bunga. Ibu masih berusaha menjahitnya, tapi kelihatannya ibu mengalami kesulitan. Kain-kain di sekitar lubang itu telah lapuk.

"Bisa tidak Bu ?" tanya Ica resah. Jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Berarti 30 menit lagi waktu masuk sekolah.

"Entahlah Nak, mungkin harus ditambal. Tapi ibu tak punya kain yang bagus untuk menambalnya. "ibu merasa bersalah karena tak mampu membelikan tas baru untuk putrinya. Tas Ica memang sudah waktunya pensiun. Tas itu telah melakukan tugasnya mendampingi Ica belajar sejak kelas satu sampai kelas tiga saat ini.


"Kak, " Nono adik Ica yang sedari tadi mendengar percakapan Ica dan ibu tiba-tiba menghampiri. "Tambal pakai ini saja !" Nono menyodorkan sebuah kertas pada Ica.

"Stiker ?" Ica bingung.

"Coba dulu kak. Untuk sementara saja, daripada kakak terlambat." Kata Nono. Meski tak terlalu yakin Ica pun segera menuruti saran Nono. Dan betapa senangnya Ica ketika stiker bergambar kelinci lucu itu menutup rapat lubang yang menganga tadi. Setelah berpamitan pada ibu dan berterima kasih pada Nono, Ica berangkat sekolah dengan riang. Tas sekolah bertambal stiker tak mengurangi semangatnya belajar.

Hari ini Bu Atik memberi tugas membuat puisi. Masing-masing anak wajib membuat dua buah puisi.

"Kalau sudah selesai kalian bisa menghiasinya atau menggambar apa saja di sampingnya. Itu akan pusisi yang kalian buat terlihat lebih indah."

Hampir semua anak belum meyelesaikan tugasnya saat bel usai pelajaran berbunyi.  "Baiklah, lanjutkan di rumah. Besok dikumpulkan." Kata Bu Atik.

"Horee." Anak-anak bersorak lega. Saat anak-anak sibuk berkemas, Dini mendekati Ica. Ia membawa serta buku  puisinya.

"Ca, tolong gambarkan ya. Kamu kan pandai menggambar."pinta Dini.
"Tapi boleh tidak sama bu Guru ?" Ica ragu.

"Pasti boleh. Aku kan sudah membuat puisinya, tinggal menggambarnya saja."desak Dini. Ica pun akhirnya setuju, hatinya terlalu baik untuk menolak permintaan temannya.

"Tapi aku tak punya pensil warna yang bagus."

"Jangan khawatir. Nih kupinjami. Tapi jangan sampai hilang ya."Dini menyodorkan sekotak pensil warna yang bagus. Beberapa anak segera saja mengikuti jejak Didi.  Dani, Alin, Novi, ramai-ramai meemberikan buku puisi mereka pada Ica. Dengan masuknya beberapa buku milik teman-temannya dan kotak pensil warna milik Dini,  tas Ica langsung menggelembung.


Saat pulang sekolah tiba.   Ica berlari cepat. Ia ingin segera tiba di rumah untuk menyelesaikan tugasnya dan tugas milik teman-temannya. Tas di bahunya terayun ayun  keras seiring dengan langkah kakinya yang makin cepat. Pada saat terayun, benda-benda di dalam tas Ica meninju-ninju bagian tas yang berlubang dengan cepat dan berulang-ulang. Ica tak menyadari saat sedikit-demi sedikit tempelan stikernya mengelupas.


Setiba di rumah…"Oh tidak " teriak Ica saat melihat stiker di tasnya terkelupas lebar dan lubang menganga dibaliknya. Ica makin panik saat mengetahui kotak pensil warna milik Dini tak ada lagi dalam tasnya. "Pasti jatuh lewat lubang di tasku." ujarnya ketakutan.

Tak mau membuang waktu, Ica segera menyusuri kembal jalan yang di laluinya saat pulang sekolah. Setelah sekian lama mencari, dari kejauhan Ica melihat pencil warna berserakan.  Ica sangat senang, namun kegembiraannya segera pudar karena ia hanya berhasil menemukan pensil  hijau, ungu, kuning dan merah. Ia tak berhasil menemukan yang lainnya.

 "Aduh bagaimana ini ?" Ica bingung. Dengan lesu Ica kembali ke rumah.  Tak ada cara lain selain  menggambar dengan hanya menggunakan empat pensil warna.

Keesokan harinya Ica harus menghadapi kemarahan Dini.

"Apa ! Pencil warnaku hilang ?" tanya Dini terkejut.

Ica mengangguk. Maafkan aku." ujarnya lirih. Dani, Alin Novi yang berdiri di sebelah Dini juga menyalahkan Ica. "Bagaimana bisa hilang." Sungut Novi kesal. "Iya nih aneh sekali." Tambah Alin .  "Atau jangan-jangan Ica bohong. Ica pingin punya pensil warna seperti punya Dini.Iya kan Ica ? "seru Novi.

Ica tertunduk. Ia mendekap tasnya erat-erat. Bibirnya mengatup rapat-rapat. Anak-anak  memandang tajam ke arahnya. Memaksa Ica untuk berkata  jujur.

"Pensil warnamu…. jatuh lewat lubang ini. " perlahan Ica membuka telapak tangannya yang menutupi stiker yang setengah mengelupas dan lubang yang terbuka separuhnya. 

Dini dan anak-anak lainnya terkejut. .Seketika itu pula mereka mereka merasa bersalah..
"Maafkan kami Ica. Kami telah menyusahkanmu," seru mereka. Ica tersenyum.  Meski sedikit malu, ia merasa lega telah mengatakan hal yang sebenarnya.

"Hei, aku ingat ! seru Dini tiba-tiba. "Aku punya tas warna kuning yang sudah lama tak terpakai. Tas itu pasti cocok untukmu."

"Aku punya yang warna biru. Besok kubawaan untukmu ya." Kata Alin.
"Aku juga. Tasku banyak sekali. Besok kuberikan satu padamu ya." Sahut Novi
"Aku juga." Teriak Dani tak mau kalah. 

Ica terpana. Tak  terbayang dalam benaknya,  akan mendapat  empat tas sekaligus pada esok hari. 
"Terima kasih teman-teman. Kalian baik sekali." Ica sangat terharu. Didekapnya lagi dengan penuh kasih sayang  tas kain merahnya. Tas yang besok akan mendapat kesempatan beristirahat setelah sekian lama bertugas.

 

Hikmah Cerita

Kebaikan kita akan mendatangkan kebaikan lainnya.

Sikap jujur dan berterus terang adalah yang terbaik         

Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky