Detektif Banjir

 

Perumahan Istana Griya tidak terlalu luas. Penghuninya beberapa puluh keluarga saja.  Sudah cukup lama Randy  tinggal  di perumahan itu bersama kakeknya. Orang tua Randy bekerja di luar kota. Randy  mengenal para tetangga dengan baik. Tak cuma kenal Randy bahkan hapal makanan favorit mereka. Tante Weka suka sekali bubur ayam. Setiap minggu pagi membeli bubur ayam di kedai  BURYAM MOYY. Chika, anak om Aril suka snak kentang KRIUKK YUMMY. Ia tak mau snak merek lainnya.  Okta, teman Rendy, penggemar ayam goreng restoran HOT CHIKEN.

Selain itu, Randy tahu juga hobi para tetangganya. Pak Jaya hobi otomotif. Mobilnya 2 tapi pingin beli mobil lagi. Tante Wulan hobi jalan-jalan. Malas sekali merawat  halaman rumahnya.  Ada pula  keluarga Pak Karta dan pak Ali. Rumah mereka di tepi  sungai yang melintas di Istana Griya. Mereka  selalu mengeluhkan  rumah mereka  yang sempit.

Warga Istana Griya hidup rukun saling menghormati. Namun keadaan berubah saat banjir setempat melanda perumahan itu dua hari lalu. Warga marah dan seseorang dituduh sebagai penyebab  banjir.

Randy baru pulang dari sekolah. Ia terkejut  melihat kakeknya  bersedih. 

“Tadi para tetangga datang kemari. Mereka menuduh kakek sebagai penyebab banjir, gara-gara menebang pohon di depan rumah kita.”

“Apa ?” Randy terkejut. Ia ingat seminggu yang lalu kakek menebang pohon Akasia di depan rumah. Pohon itu sudah tua. Sewaktu-waktu bisa roboh menimpa orang-orang yang lewat di dekatnya.

 “Siapa mereka Kek ?” Randy penasaran.

“Tante Weka, Om Aril, Tante Wulan, Tante Eki, Pak Karta, Pak Jaya.  Oh, Kakek memang salah,” desis kakek  menyesal. Randy diam. Ia tampak  ragu.

Sore itu hujan turun sangat deras. Kakek sangat cemas. Khawatir terjadi banjir lagi dan ia kembali dituduh sebagai penyebabnya. Kekhawatiran kakek terbukti.  Perumahan Istana Griya. banjir lagi. Tingginya selutut orang dewasa. Randy sedang membantu kakeknya menyelamatkan barang-barang, saat tiba-tiba banyak orang berteriak di depan rumah mereka. Kakek dan Randy segera keluar. Mereka terkejut. Di halaman banyak tetangga berkumpul. Ada Tante Weka, Pak Jaya, Om Aril, juga Okta. Mereka semua marah.

“Gara-gara kakek menebang pohon perumahan kita jadi kebanjiran,” omel Tante Weka,

“Perumahan ini sudah kekurangan pohon, kakek tidak boleh menebang pohon sembarangan.,” seru Pak Jaya.

“Kakekmu pembuat masalah Randy, ” ejek Okta.

“Jangan menuduh sembarangan, ” Randy kesal.  Kakek tentu saja sangat sedih. Randy merasa iba pada kakeknya.

“Ini tak boleh dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu !” tekadnya dalam hati.

Esoknya, banjir  surut. Bersepeda Randy keliling perumahan. Ia akan mencari bukti bahwa kakeknya bukanlah penyebab banjir. Randy anak yang pintar. Ia tahu beberapa hal yang bisa menyebabkan banjir. Randy pun mendatangi banyak tempat di perumahan. Ia mengamati lalu mencatat hasilnya.  Beberapa kali Randy geleng-geleng kepala.

Sore itu pemandangan unik terlihat di perumahan. Randy berjalan diikuti oleh beberapa  tetangganya.

“Ikuti saya, saya akan menunjukkan sesuatu, “Randy berkata yakin. Ia ingin membuktikan bahwa kakeknya tidak bersalah. Para tetangga itu berjalan dibelakang Randy sambil  mengomel.

“Huh apa-apaan ini. Tidak sopan !” hardik Tante Wulan.

“Kakekmu memang bersalah,” ejek Okta, anak Tante Wulan.

“Diam Okta,  lihat saja nanti,” geram  Randy.

Randy tiba di selokan.  Selokan itu penuh sampah. Randy mengambil galah dan mengeluarkan isinya. Semua orang  menutup hidung. Tante Weka yang cerewet langsung mengomel.  Juga Om Aril, dan Okta.  Randy menunjuk tumpukan sampah  di selokan. Ada  kotak BURYAM MOII, kardus HOTCHIKEN, serta pembungkus snak KRIUKK YUMMY.

“Yang  membuang sampah di selokan ini adalah penyebab banjir, “ seru Randy. Wajah Tante Weka memerah. Wajah  Om Ari dan Okta juga.

Randy berjalan lagi.  Ia mengajak orang-orang untuk  menengok halaman rumah Tante Wulan. Halaman  itu gersang. Tak ada tanaman yang tumbuh.  Semua tanah di halaman  tertutup semen. Jika hujan datang, air meluap ke jalanan.

“Halaman Tante Wulan tidak bisa meresapkan air. Ini  juga menyebabkan banjir.” Kata Randy. Tante Wulan tersipu. Randy  ke rumah Pak Jaya. Selokan di depan rumah Pak Jaya menghilang. Pak Jaya menutupnya untuk memperluas lahan parkir di rumahnya.

“Selokan yang ditutup susah untuk dibersihkan.”tegasnya.

Terakhir Randy pergi  ke sungai kecil di sebelah barat perumahan.  Sungai itu  kotor oleh sampah. Yang memprihatinkan badan sungai  menciut. Keluarga Pak Karta dan pak Ali menimbun sungai rupanya. Di atasnya mereka  akan mendirikan bangunan.

“Sungai yang kotor, badan sungai yang menciut membuat air hujan tidak tertampung. Itu juga menyebabkan banjir.” Jelas Randy dengan pintarnya. “ Kakekku tidak bersalah. Kakek cuma menebang pohon tua yang membahayakan. Lagipula di halaman  kami masih banyak pohon dan tanaman lainnya.”  

Para tetangga tampak malu. Ternyata yang menyebabkan banjir lokal itu adalah tindakan mereka yang tak ramah lingkungan.    Pak Jaya mewakili warga meminta maaf pada Randy dan kakek.   Kakek sangat bangga pada Randy. Kakek pun terkagum-kagum  pada pengetahuan  Randy tentang lingkungan. “Aku anggota The Greeners, Kek.  Klub  pecinta lingkungan di sekolahku,” jawab  Randy mantap@

Cerita seru lainnya : Bos Udin !

                                 Melepas Topeng Frengky

                                 

Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky