Bos Udin !
![]() |
| Gambar : Majalah Bobo |
Setiap hari tas Udin selalu gendut. Bukan karema membawa banyak buku, tetapi karena Udin membawa benda-benda seperti permen, wafer, biskuit, snak keju, snak kentang, bahkan kelereng, dan stiker.
Setiap pagi ada saja anak yang
mendatangi bangkunya, lalu Udin menjadi sibuk. Saat pulang sekolah ada saja
anak yang mengejarnya. Lagi-lagi Udin menjadi sibuk. Tetapi saat tersibuk Udin
adalah pada jam istirahat. Saat itu hampir seluruh isi kelas mengerumuninya.
Udin memang beda. Jika umumnya
anak suka membeli, Udin suka menjual. Ia
menjual permen, biskuit, wafer, snak keju, kartu, stiker, kelereng, dan banyak
lagi.
“Ayo beli-beli. Yang seribu ada
yang lima ratus juga ada. Murah..murah...,” kalimat khas Udin.
Teman-teman senang membeli isi
tas gendut Udin. Kalau yang mereka inginkan tidak ada, mereka akan memesan, dan
Udin akan mencatatnya di buku khusus. Praktis dan murah, itulah alasan kenapa
anak-anak senang membeli dagangan Udin.
Akan tetapi tidak semua anak suka
membeli dagangan Udin. Sejak sekelas dengannya di kelas 5 ini, aku tak pernah
membeli apapun darinya. Aku lebih suka membeli snak di kantin sekolah. Aku
memang tak suka dengan ulah Udin. Menurutku tidak pantas Udin berjualan di
kelas. Kelas untuk belajar, bukan untuk jualan. Keluarga Udin pasti miskin,
makanya Udin berjualan untuk menambah uang saku.
Klik yuk : Misteri Dasi
Ini hari yang buruk untukku. Giliranku duduk sebangku dengan Udin. Pagi ini aku datang bersamaan dengan Udin. Sedetik kemudian ...DRAP DRAP DRAP! Anak-anak berdatangan ke mejanya yang berarti ke mejaku juga.
“Udin, kau jual apa hari ini ?
Udin ada yang baru enggak ?”
Fivi menjerit di telingaku. Dodo
mendesak badanku. Rere menyikut lenganku. Hani, Selvi, Akbar berdesakan di
seputar meja. Aku terjepit. Jengkel sekali aku, apalagi saat Udin menuangkan
dagangannya ke atas meja... BRUKK !
“Kacang kulit ada, snak kentang
ada, yang terbaru kripik balado super pedas bikinan ibuku. Anak-anak berebut
keripik balado singkong yang dibungkus
plastik kecil itu.
“Uh pedas pedas...enak enak,”
teriak anak-anak.
“Tenang jangan berebut,” lerai
Udin.
“Ayo siapa yang pesan besok aku
bawakan !”teriak Udin lantang. Gayanya
yang seperti pedagang di pasar membuatku sebal. Ia lalu mengeluarkan buku
khususnya.
“Tyo tidak pesan kripik balado ?”Tiba-tiba
Udin menoleh padaku.
“Tidak !” jawabku cepat.
“Enak lo. Masih ada satu.
Sebetulnya buat kumakan waktu istirahat. Tapi enggak apa-apa kalau kamu pingin
coba.”
“Tidak, makasih. Aku tidak suka
pedas. Lagipula ini bukan jam istirahat, mana boleh makan-makan seenaknya!”
jawabku sedikit sengit.
![]() |
| Gambar : Majalah Bobo |
Waktu istirahat tiba. Sebelum
terjepit untuk kedua kalinya, buru-buru aku lari ke kantin. Tak kupedulikan
Udin yang melongo karena aku cepat-cepat pergi.
Bel masuk berbunyi. Bu Nadia ,
wali kelas 5 masuk. Beliau langsung mengumumkan sesuatu.
Klik juga yang ini : Kebun Atap Pak Mon
“Anak-anak siapa yang belum
membayar uang LKS Bahasa Indonesia, hari ini terakhir. Heni, Tyo, Santi,
Rere...tinggal kalian yang belum. Aku terkejut, aku lupa membawa uang sembilan
ribu rupiah untuk membayar LKS. Aku coba pinjam pada Aldo, tetapi Aldo tak
punya uang. Risma, Deni, Alif juga,
“Pinjam uangku saja !” bisik Udin
tiba-tiba. “Uang modalku ditambah keuntungan penjualanku hari ini lebih dari
sembilan ribu.”
“Eh tidak...tidak !” tolakku.
Besok ada pelajaran bahasa indonesia, gimana kalau tak punya LKS ? Aku bingung akhirnya...
“Ya deh, nanti sore aku kembalikan!”
Sore yang cerah. Dengan menggenggam alamat Udin, aku mencari rumahnya.
Betapa terkejutnya aku. Ternyata keluarga Udin kaya rayaKamu pernah
jualan untuk membantu orang tua? Jangan kecil hati atau minder ya, sebab kamu
sedang mengasah dirimu menjadi orang yang hebat.
Belajar
jualan?Meski kamu ga lagi butuh duit . Kenapa tidak, coba aja. Niscaya banyak
manfaatnya
Ide cerita
ini dari harapanku. Suka banget melihat orang yang pandai berdagang. Rasullulah pedagang yang sukses. Menurut Islam
satu dari sembilan pintu rezeki adalah
perdagangan.
Bagaimana menurutmu. Komen yuk ...


Comments
Post a Comment