Bos Udin !

https://albumceritaanak.blogspot.com/2020/12/bos-udin.html
Gambar : Majalah Bobo

Setiap hari tas Udin selalu gendut. Bukan karema membawa banyak buku, tetapi karena Udin membawa benda-benda seperti permen, wafer, biskuit, snak keju, snak kentang, bahkan kelereng, dan stiker.

Setiap pagi ada saja anak yang mendatangi bangkunya, lalu Udin menjadi sibuk. Saat pulang sekolah ada saja anak yang mengejarnya. Lagi-lagi Udin menjadi sibuk. Tetapi saat tersibuk Udin adalah pada jam istirahat. Saat itu hampir seluruh isi kelas mengerumuninya.

Udin memang beda. Jika umumnya anak suka membeli, Udin suka menjual.  Ia menjual permen, biskuit, wafer, snak keju, kartu, stiker, kelereng, dan banyak lagi.

“Ayo beli-beli. Yang seribu ada yang lima ratus juga ada. Murah..murah...,” kalimat khas Udin.

Teman-teman senang membeli isi tas gendut Udin. Kalau yang mereka inginkan tidak ada, mereka akan memesan, dan Udin akan mencatatnya di buku khusus. Praktis dan murah, itulah alasan kenapa anak-anak senang membeli dagangan Udin.

Akan tetapi tidak semua anak suka membeli dagangan Udin. Sejak sekelas dengannya di kelas 5 ini, aku tak pernah membeli apapun darinya. Aku lebih suka membeli snak di kantin sekolah. Aku memang tak suka dengan ulah Udin. Menurutku tidak pantas Udin berjualan di kelas. Kelas untuk belajar, bukan untuk jualan. Keluarga Udin pasti miskin, makanya Udin berjualan untuk menambah uang saku.


Klik yuk : Misteri Dasi


Ini hari yang buruk untukku. Giliranku duduk sebangku dengan Udin. Pagi ini aku datang bersamaan dengan Udin. Sedetik kemudian ...DRAP DRAP DRAP! Anak-anak berdatangan ke mejanya yang berarti ke mejaku juga.

“Udin, kau jual apa hari ini ? Udin ada yang baru enggak ?”

Fivi menjerit di telingaku. Dodo mendesak badanku. Rere menyikut lenganku. Hani, Selvi, Akbar berdesakan di seputar meja. Aku terjepit. Jengkel sekali aku, apalagi saat Udin menuangkan dagangannya ke atas meja... BRUKK !

“Kacang kulit ada, snak kentang ada, yang terbaru kripik balado super pedas bikinan ibuku. Anak-anak berebut keripik balado singkong yang dibungkus  plastik kecil itu.

“Uh pedas pedas...enak enak,” teriak anak-anak.

“Tenang jangan berebut,” lerai Udin.

“Ayo siapa yang pesan besok aku bawakan !”teriak Udin lantang.  Gayanya yang seperti pedagang di pasar membuatku sebal. Ia lalu mengeluarkan buku khususnya.

“Tyo tidak pesan kripik balado ?”Tiba-tiba Udin menoleh padaku.

“Tidak !” jawabku cepat.

“Enak lo. Masih ada satu. Sebetulnya buat kumakan waktu istirahat. Tapi enggak apa-apa kalau kamu pingin coba.”

“Tidak, makasih. Aku tidak suka pedas. Lagipula ini bukan jam istirahat, mana boleh makan-makan seenaknya!” jawabku sedikit sengit.

https://albumceritaanak.blogspot.com/2020/12/bos-udin.html
Gambar : Majalah Bobo

Waktu istirahat tiba. Sebelum terjepit untuk kedua kalinya, buru-buru aku lari ke kantin. Tak kupedulikan Udin yang melongo karena aku cepat-cepat pergi.

Bel masuk berbunyi. Bu Nadia , wali kelas 5 masuk. Beliau langsung mengumumkan sesuatu.


Klik juga yang ini : Kebun Atap Pak Mon


“Anak-anak siapa yang belum membayar uang LKS Bahasa Indonesia, hari ini terakhir. Heni, Tyo, Santi, Rere...tinggal kalian yang belum. Aku terkejut, aku lupa membawa uang sembilan ribu rupiah untuk membayar LKS. Aku coba pinjam pada Aldo, tetapi Aldo tak punya uang. Risma, Deni, Alif juga,

“Pinjam uangku saja !” bisik Udin tiba-tiba. “Uang modalku ditambah keuntungan penjualanku hari ini lebih dari sembilan ribu.”

“Eh tidak...tidak !” tolakku.

Besok ada pelajaran bahasa indonesia, gimana kalau tak punya LKS ? Aku bingung akhirnya...

“Ya deh, nanti sore aku kembalikan!”                                                                                

Sore yang cerah. Dengan menggenggam alamat Udin, aku mencari rumahnya.

Betapa terkejutnya aku. Ternyata keluarga Udin kaya raya

Rumahnya besar, dua mobil diparkir digarasi. “Wah, buru-buru amat. besok juga nggak apa-apa,” katanya tulus saat aku
mengembalikan uangnya.    


Dimuat di Majalah Bobo



Behind The Story (BTS) :

Kamu pernah jualan untuk membantu orang tua? Jangan kecil hati atau minder ya, sebab kamu sedang mengasah dirimu menjadi orang yang hebat.

Belajar jualan?Meski kamu ga lagi butuh   duit . Kenapa tidak, coba aja. Niscaya banyak manfaatnya

Ide cerita ini dari harapanku. Suka banget melihat orang yang pandai berdagang.  Rasullulah pedagang yang sukses. Menurut Islam  satu dari sembilan pintu rezeki adalah perdagangan.

Bagaimana menurutmu. Komen yuk ...

                                






Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky