Kebun Atap Pak Mon
Sudah satu bulan Pak Mon naik turun ke atap rumahnya. Pak Mon sedang membuat kebun atap. Pak Mon tinggal di apartemen kecil. Di lantai empat, yaitu lantai yang tertinggi. Pak Mon memanfaatkan atap apartemennya untuk bertanam sayur sebab tak ada tempat untuk menanam di apartemennya.
Namun banyak yang tidak suka dengan hal ini. Yaitu Bu Mio tetangga lantai satu, Bang Oji tetangga lantai dua, dan Kakek Palopo tetangga lantai tiga. Mereka yang tinggal di bawah apartemen Pak Mon mendapat akibat buruk.
Hari ini Pak Mon menanam selada. Ia membawa nampan berisi bibit selada. Pak Mon naik tangga yang menghubungkan pintu rumah dengan atap. Usia Pak Mon 50 tahun. Badannya sehat dan kuat.
Tiba-tiba di jalan bawah sana, sebuah truk membunyikan klakson keras sekali. Pak Mon terkejut. Nampan di tangannya tumpah. Bibit selada jatuh. Celakanya beberapa bibit selada terbang dan jatuh ke lantai bawah. Bu Mio sedang berjalan menuju warung nasinya. Tak ayal bibit-bibit selada berjatuhan menimpanya.
“Hoiii Pak Mon !” Bu Mio berteriak marah sambil melihat ke atas. “Lihat bajuku kotor.”
Klik yuk : High Heels Mama
Pak Mon cepat-cepat turun. “Maafkan saya,” Pak Mon tak enak hati. Ia berjanji hal itu tak kan terulang lagi.
“Selimutku!” Bang Oji tetangga lantai dua menjerit. Ia sedang menjemur selimut di balkon. Selimut itu terkena tanah.
Oh, Pak Mon sangat terkejut. Ia cepat-cepat turun.
“Biar saya cuci selimut yang kotor itu,”kata Pak Mon merasa bersalah.
“Tidak perlu. Cabut saja semua tanaman atapmu !” Bang Oji kesal.
“Maafkan saya,” kata Pak Mon berulang-ulang.
Pak Mon sedih sekali mendengarnya. Ia terlanjur menyayangi kebun atapnya yang kini tumbuh subur. Bagi Pak Mon menanam di atap adalah ide yang bagus terlebih bagi mereka yang tak punya halaman di rumah.
Pak Mon mendapat ide ini setelah berkunjung ke kota sebelah. Kota itu tampak hijau jika di lihat dari udara. Sebab sebagian besar penduduknya punya kebun di atap. Lalu Pak Mon dengan pengetahuan seadanya mulai menanam. Hujan turun sangat deras. Air bercampur pasir, turun dari atap dan mengotori lantai teras Kakek Palopo di lantai 3. Kakek Palopo marah sekali.“Apa-apaan ini ?”
Pagi ini Pak Mon menyiram tanamannya ditemani burung-burung yang kini sering datang ke atap apartemen. Bahagianya Pak Mon saat itu. Namun suasana mendadak kacau karena Bu Mio, Kakek Palopo dan Bang Oji tiba-tiba naik ke atap. Mereka tampak gusar.
“Musnahkan kebun ini. Kami sangat terganggu !“ seru mereka kompak.
“Beberapa minggu lagi saat tahun baru anakku datang berkunjung , aku tidak mau rumahku kotor,” tambah Kakek Palopo.
Pak Mon sedih. Ia sayang kebun atapnya. Tapi ia juga sangat menghormati tetangganya.
”Baiklah, setelah panen tak ada kebun atap lagi,”ujar Pak Mon.
Memasuki pergantian tahun, tiba-tiba semua harga terdongkrak naik. Demikian kebutuhan dapur. Harga sayur dan cabai melonjak tinggi. Hari panen tiba, Pak Mon membawa keranjang. Ia memanen selada dan cabe. Wah, banyak juga hasil panen Pak Mon. Pak Mon tidak menikmatinya sendiri. Ia membaginya dengan tetangga apartemennya.
Klik juga ini : Ayahku Hebat
Tok tok, Pak Mon mengetuk pintu apartemen Bu Mio. Bu Mio membukanya. Wajahnya tampak lesu. Bu Mon memang sedang sedih, ia terpaksa menutup warungnya sementara karena harga-harga yang membumbung tinggi.
“Ini hasil panen kebun atapku,” Pak Mon memberi Bu Mio sekeranjang selada dan cabe.
“Oh!” Bu Mio takjub. “Terima kasih Pak Mon. Dengan cabai ini aku bisa membuka warung lagi.” Bu Mio punya warung lalapan.
“Terimalah hasil panenku.” Pak Mon memberi Bang Oji sekeranjang selada.
“Wah, terima kasih Pak Mon. Akhir-akhir ini nafsu makanku turun karena aku tidak pernah lagi membuat sambal karena cabe sangat mahal. Aku sangat suka sambal.”
“Sama-sama,” seru Pak Mon senang.
Pak Mon mengetuk pintu rumah Kakek Palopo. Ia ingin memberi Kakek Palopo sekeranjang selada dan cabe.
“Pak Mon, terima kasih sekali. Besok anakku akan datang. Aku akan membuatkannya mi dengan selada.”
Wah senangnya hati Pak Mon mendengarnya.
Siang ini Pak Mon naik ke atap rumah. Ia sedih sekali. Ia membawa sapu dan karung yang banyak untuk bersih-bersih. “Mulai besok tidak ada lagi kebun atap,” kata Pak Mon lirih. Tiba-tiba Pak Mon dikejutkan oleh suara ramai. Ternyata Bu Mio, Bang Oji, dan Kakek Palopo sudah berada di belakangnya. Mereka naik ke atap.
“Pak Mon, menurutku kebun atap berguna sekali,” kata Bu Mio.
“Iya sayang kalau ditutup,” tambah Kakek Palopo.
Pak Mon sangat terkejut mendengarnya. “Tapi, kebun ini telah banyak membuat kerugian, “
“Jangan khawatir Pak Mon, nanti kita akan bantu membuat pengaturan supaya kebun atap ini menjadi lebih baik dan tertata,” kata Bang Oji.
“Benarkah ?”Pak Mon masih tak percaya.
“Kebun atap adalah ide yang bagus. Di kota sudah tidak ada tempat lagi untuk menanam,” sahut Bu Mio. Oh, bahagianya hati Pak Mon.
Keesokan harinya Pak Mon kembali ke atap. Ia tidak sendiri, kali ini bersama para tetangganya. Mereka telah sepakat akan memelihara kebun atap apartemen mereka bersama-sama.
Behind The Story (BTS) :
Kebayang ga
sih suatu saat orang-orang akan
memanfaatkan atap rumahnya untuk membuat kebun . Pesawat yang terbang diatas
rumah-rumah akan melihat pemandangan hijau nan indah yang berasal dari atap
atap rumah.
Tentu saja hanya model atap tertentu yg bisa dipakai utk membuat kebun atap.Ketika lahan semakin susah di dapat, orang akan berpikir untuk menanam di atap.
Kebun atap sudah banyak pula di negara maju.Ketika membuat kebun atap, kita tentu perlu menyiapkan pengaturan yang baik. Supaya tidak terjadi hal- hal seperti Pak Mon. Nggak lucu kan kalau tiba-tiba polibag kita jatuh trus meluncur menimpa mobil milik tetangga kita di bawah sana.
Sukakah kamu dengan kebun atap, silakan tulis komenmu


Comments
Post a Comment