Tina dan Mall Baru

 

Gambar : Majalah Bobo

Di ujung jalan depan Kampung Tina sedang dibangun sebuah Mall. Tina sangat senang. Sejak dulu ia ingin ada pusat perbelanjaan modern di dekat rumahnya. Selama ini ia berbelanja di pasar Bakti. Mesti tak terlalu besar, sebetulnya pasar itu lumayan lengkap.  Harganyapun murah. 

Siang ini, Tina dan teman-temannya melihat-lihat pembangunan mall. Mereka berharap pembangunan mall itu cepat selesai. Mereka sudah bosan berbelanja di Pasar Bakti yang menurut mereka tidak keren.

“Aku akan beli baju di mall saja pasti bagus dan keren daripada kalau beli di pasar Bakti,” kata Eko.

“Tentu saja. Semua yang dijual di mall pasti bagus. makanan di sana juga pasti enak-enak,” timpal Laras.

“Tina kau mau beli apa di mall nanti?”

“Semuanya! Pokoknya aku nggak mau lagi belanja di Pasar Bakti. Sudah jelek, bau ikan asin lagi,” kata Tina, disambut tawa teman-temannya.

Tina pulang dengan riang gembira. Namun kegembiraannya berakhir begitu tiba di rumah. Ibu menyuruhnya membeli gula di toko Pak Soleh yang ada di pasar Bakti.

“Ada toko lainnya ?”seru Tina sambil menggerutu.

”Biasanya kita berbelanja di situ kan ?”jawab ibu terheran-heran.

https://albumceritaanak.blogspot.com/2020/12/tina-dan-mall-baru.html
Gambar : Majalah Bobo

Klik yuk : Detektif Banjir


Dengan malas Tina berangkat. Sejak pembangunan mall itu ia memang selalu
  sebal bila ibu menyuruhnya membeli apapun di pasar Bakti.Tina menggerutu setiba di pasar yang ramai,panas, dan bau.

“Huh...coba mall itu sudah selesai,aku nggak perlu ke sini lagi, beli aja di mall.”

Toko Pak Soleh ramai siang itu, namun seperti biasa, Pak Soleh melayani setiap pembeli dengan cepat dan ramah.

“Tina, ini gulanya,”Lain kali belanja lagi disini, ya.Pak Soleh kasih diskon nanti, terima kasih,”ujar Pak Soleh riang.

“Hmm, nggak janji deh,”batin Tina sambil ngeloyor pergi.


Saat yang dinanti pun tiba.Mall selesai dibangun. Mall itu indah, megah, dan lengkap sekali. Ada supermarket besar di dalamnya.Selain lengkap, mall itu bersih, sejuk dan wangi. Siapapun yang masuk ke dalamnya akan merasa nyaman. Pada hari pertama, pengunjung membludak. Mereka berdesakan untuk bisa masuk ke dalam mall. 

Tina dan teman-temannya ada di antara mereka.Dari hari ke hari pengunjung mall terus bertambah. Penduduk di kampung Tina makin banyak saja yang berbelanja di sana. Meski hanya untuk membeli dua bungkus mi instan. Mereka pergi ke mall. Tina pun demikian.


Klik ini juga yah : Negeri Tanpa Mengantre


Hari pertama ia membeli pensil, hari kedua ia membeli sebuah buku tulis. Hari ketiga, meski tak membeli apapun, ia jalan-jalan di mall.

Suatu hari ibu menyuruh Tina membeli sabun dan pasta gigi. Ia segera pergi ke mal. Ita tak mau membeli di pasar Bakti meskipun ibu menyuruhnya membeli di sana.

“Mending ke mall aja,”tukasnya.

Seperti hari sebelumnya, siang itu supermarket di dalam mall sangat ramai. Tina mengambil sabun dan pasta gigi yang terletak rapi di rak.

“Tina membawa sabun dan pasta giginya ke kasir. Gilirannya masih akan lama. Tina mencoba bersabar. Tapi lama kelamaan kakinya kebal dan kesemutan.

“Duh capek ! Mending aku ke sini lagi nanti sore, tapi ibu marah tidak ya kalau aku pulang tidak membawa apa-apa?”keluh Tina kebingungan. Tina kemudian tak peduli. Ia mengembalikan sabun dan pasta giginya ke rak, lalu segera keluar dari mall. Ia berencana kembali sore nanti.

Dalam perjalanan pulang, Tina melewati pasar bakti. Pasar itu begitu sepi. Tiba-tiba Tina berubah pikiran. Daripada kena marah ibu sebaiknya ia membeli saja sabun dan pasta gigi di toko Pak Soleh.

Tiba di toko Pak Soleh,Tina merasa heran. Pak Soleh yang selalu tampak riang, wajahnya kali ini murung

“Sudah lama tak berbelanja di sini Tina,” sapa Pak Soleh tetap ramah.

“Eh iya Pak,” jawab Tina kikuk.

Setelah mendapatkan sabun dan pasta gigi, Tina keluar dari pasar. Ia melewati kembali kios-kios dan toko yang sepi. Para pedagang berwajah muram. Sebagian malah terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Jumlah pengunjung pasar itu jauh berkurang dan Tina tahu penyebabnya.

Tiba-tiba Tina merasa sedih melihat semua itu. Bagaimanapun pasar Bakti sangat berjasa bagi penduduk kampungnya selama ini. Sambil berjalan pulang, Tina berjanji dalam hati. Meski sudah ada mall yang megah, ia akan tetap menjadi pembeli setia di pasar Bakti.

Dimuat di Majalah Bobo N0 .09 Tahun XXXVII. Kamis 11 Juni 2009


Behind The Story  (BTS) :

Ide cerita ini muncul dari pemikiran  yang agak serius. Ketika waktu itu banyak mall baru berdiri, dan membawa pengaruh pada para pedagang kecil di pasar dan juga toko kelontong sebelah rumah.

Meski gak selalu seperti itu kejadiannya paling tidak bisalah hal ini terjadi dalam kehidupan nyata. Orang lebih memilih pergi belanja ke mal yang adem , wangi dan nyaman, daripada berputar-putar di pasa yang sesak dan bau. Yup, khususnya untuk orang yang beerduit.

Cerita ini dibuat ketika mal masih jaya. Sekarang mal pun kalut dengan keberadaan toko online. Yup, betul kata orang semua ada masanya.

Gimana guys, setuju gak sih ?





Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky