Bukit Corona

Pandemi Covid -19 belum berakhir, anak-anak tetap belajar dari rumah.  Belajar dengan sistem daring atau online. Bagi sebagian anak belajar daring bukan masalah, namun bagi Olan ini adalah sebuah masalah besar sebab emak,    tidak punya smartphone atau ponsel pintar. 

Emak berdagang bumbu dapur di pasar. Emak menjual kunyit, lengkuas,jahe, serai dan bumbu lainnya Pendapatannya tidak menentu. Bapak Olan sudah lama meninggal.

Tapi sore ini tiba-tiba emak mengajak Olan ke toko ponsel.  Emak mau membeli ponsel pintar supaya Olan bisa ikut daring.

"Cihuyy," Olan senang sekali!

Sebelum berangkat ke toko ponsel, emak bilang bahwa mereka nanti  akan membeli ponsel bekas saja. Sebab uang emak hanya empat ratus ribu.

Olan dan emak turun bukit. Mereka mengenakan masker. Sedang ada virus yang menyebar dan sangat menular.    Namanya virus corona .  Virus ini menyebabkan pandemi covid- 19. Akibat pandemi Covid-19 sekolah-sekolah ditutup. Olan dan teman-temannya belajar dari rumah.


Cerita seru lainnya : Stiker Penyelamat


Di balik maskernya Olan tersenyum. Ia senang sebab sebentar lagi akan ada ponsel pintar di rumah. Selama ini cuma ada ponsel jadul.

Olan dan emak tiba di kampung di  kaki bukit. Mereka kini melewati lapangan kampung. Ada Avan dan Mahri duduk di tepi lapangan, mereka sedang main game di ponsel .Mereka teman sekolah Olan di kelas 6. Mereka sering main ponsel, dan membawa ponsel ke mana-mana. Olan suka iri pada mereka. Asyik sekali mereka main game. Kepala mereka menunduk menatap layar ponsel, sampai tak melihat saat Olan lewat bersama emak.

Olan dan emak tiba dipertokoan. Ada beberapa toko ponsel di sana. Para pembeli memakai masker, begitu pula para penjual.

Karena toko agak ramai,  Olan menunggu di luar. Saat menunggu Olan bertemu dengan Pak Aziz guru  kelas 6.

"Olan, sedang apa disini ?" sapa Pak Aziz ramah.

"Menunggu emak Pak. Emak di dalam toko, membeli ponsel pintar supaya bisa daring,"jawab.

"Alhamdulillah. Jangan lupa hari senin, pembelajaran daring akan dimulai.   Nanti kamu bisa bergabung grup whatsapp   kelas 6 ya"

"Ya Pak."

Hemm..emak lama sekali. Olan menyusul emak .Ia masuk ke dalam toko.  Olan melihat wajah emak sedih.

"Tidak bisa ditawar ya?" Emak memohon pada pemilik toko.

"Tidak bisa Mak, mana boleh semurah itu. Coba  carI ke toko lain pasti sama,"sahut penjual.

 

Emak dan Olan berpindah ke toko lain di  kompleks pertokoan.

"Buat apa ya Mak?"tanya pemilik toko.

"Daring, belajar online,"jawab emak. Wajah pemilik toko itu langsung berseri- seri. Ia membuka etalase dan mengeluarkan sebuah ponsel yang membuat Olan dan emak tercengang. Sebuah ponsel yang sangat canggih.

"Ini yang terbaik untuk daring," 

Wah ponsel ini pasti berjiuta- juta harganya.

"Tidak, terima kasih,

Emak dan Olan pulang dengan tangan hampa. Uang emak tak cukup untuk membeli ponsel bekas.

"Maafkan Emak  ya," emak merasa bersalah karena belum bisa membeli ponsel pintar.

 

"Tak apa Mak nanti tanya ke teman teman , kata Olan tak ingin membuat emak makin sedih.

Hari Senin  tiba. Seragam , tas dan topi Olan tetap tergantung ditempatnya , sekolah masih ditutup untuk anak-anak. Tapi hari ini belajar daring dimulai.

Matahari mulai tinggi. Hati  Olan resah. Ia bingung kepada siapa ia akan bertanya tugas sekolah


Klik juga ini :   Detektif Banjir


Oh iya, Olan ingat pada kedua temannya, Ava dan Mahri. Mereka punya ponsel pintar. Olan akan bertanya tugas pada mereka saja.

Olan berlari ke lapangan, biasanya mereka ada di sana.

Sesampai di lapangan, Olan melihat Avan. Avan sendirian saja. Ia sedang main game. Olan tentu saja heran.

"Avan, kamu tidak mengerjakan tugas daring pak Aziz?"

"Ah nanti saja, "sahut Avan malas.

"Ehm...aku boleh lihat tugasnya? Nanti ku catat, trus ku kerjakan di rumah."

Seketika Avan berhenti main game., Tampaknya sebuah ide hinggap di otaknya. Hem, ini sebuah kesempatan yang bagus. Mengerjakan PR bersama murid yang pintar. Ia bisa minta agar Olan nanti mengerjakan PR nya.

"Oke, kita ke  rumahku yuk."

 

Mereka lalu pergi ke rumah Avan. Rumah Avan sepi, kedua orang tuanya sibuk bekerja.

Avan membuka wa grup kelas 6. Menunjukkan tugas hari ini pada Olan. Olan langsung mengerjakannya. Mulanya Avan juga mengerjakan tugas , namun belum juga selesai,  ia malah main game. IA meminta Olan untuk mengerjakan tugas untuknya .

Keesokan harinya.  Olan kembali mengerjakan PR. Sementara Avan main game.  i

Avan malas sekali. Ia minta Olan untuk mengerjakan PR nya.

Di hari ketiga hal yang sama terjadi. Avan  meminta Olan mengerjakan tugasnya sementara ia bermalas-malasan.

Olan kesal."Huh ini tidak boleh dibiarkan." Olan tidak mau membantu orang yang malas.   Setelah itu ia tidak datang lagi ke rumah Avan.

Pada hari keempat Olan pergi ke rumah Mahri. Mahri senang Olan yang pandai mengerjakan tugas di rumahnya. Mahri malas berpikir. Ia selalu mencotek hasil pekerjan Olan. Olan kesal. Menyontek adalah perbuatan yang tidak jujur, Olan tidak suka.Beberapa hari kemudian Olan tak datang lgi ke rumah Mahri.

Pagi ini Olan termenung di saung. Saung itu terletak di puncak bukit.  Indah sekali pemandangan di atas bukit. Pagi ini pasti sudah masuk lagi tugas dari sekolah. Olan  bingung mau bertanya pada siapa.

Tiba-tiba seorang laki-laki datang. Ia sedang menelpon suaranya berisik sekali. Olan dapat mendengar sebagian pembicarannya.

"Maaf, tadi terputus . Sinyalnya kurang bagus di bawah. Nah di atas sini sinyalnya bagus sekali. Oh ya anda butuh jahe ya. Ya memang jahe banyak dicari orang sekarang di masa covid ini, untuk daya tahan tubuh."

Jahe? Pikiran Olan langsung tertuju pada dagangan emak. Bukankah jahe dagangan emak. Wah info ini harus disampaikan pada emak.

Dua hari berlalu. Tugas daring lewat begitu saja. Olan pasrah. Olan malah kini sibuk membantu emak berjualan jahe. Emak menyediakan banyak jahe dilapaknya, dan benar saja, banyak sekali peminatnya.

Pagi ini Olan turun bukit. Ia membawa sekantong jahe ke pasar. Setelah mengantar jahe, Olan kembali pulang. Dalam perjalan  pulang Olan melewati lapangan kampung.

Ia melihat Avan dan Mahri. Tapi kedua anak itu hanya duduk.tidak terlihat sibuk dengan hape seperti biasa.

"Olan!"

Olan berhenti. Avan memanggilnya.

"kamu dari mana?"

"Dari pasar mengantar jahe untuk emak. Kok kalian di sini? Tidak ada tugas daring?"

"Tidak bisa lihat tugas, sinyalnya jelek. Sudah dua hari ini. Ya sudah main saja."

Sinyal jelek? Seketika Olan teringat laki-laki yang menelpon di saung.

"Aku tahu, tempat untuk mendapatkan sinyal yang bagus.

"Hah benarkah? Dimana?"

"Yuk ikut aku!"

Olan berlari. Avan dan Mahri mengikuti. Mereka naik bukit hingga tiba di saung.

"Avan dan Mahri mengeluarkan hape mereka dan menyalakannya.

Tung tung tung!

Pesan masuk bertubi-tubi

"Wah keren," pekik Avan dan Mahri.

Mereka lalu melihat grup whatapp  klas 6.

"Wah kita ketinggalan banyak tugas,"kata Avan.

"Yuk turun."ajak Mahri.

"Ehm.tunggu, bolehkah aku ikut melihat tugas setiap hari. Emak tidak punya ponsel pintar.

Avan dan Mahri saling melihat. Mereka tersenyum.

"Boleh. Tapi boleh tidak kami numpang mengerjakan di saung ini. Habis sinyalnya bagus sih di sini."pinta Avan.

"Ya sinyalnya bagus di atas bukit ini. Di bukit ini kita bisa mencari sinyal untuk mengerjakan tugas selama Corona," sambung Mahri.

"Bukit Corona," seloroh Avan.

"Oh tentu saja boleh.. Saung ini milik bersama."

"Ya sudah kita kerjakan sama-sama tugasnya di sini." kata Mahri.

"Baiklah, tapi ada syaratnya,"kata Olan.

"Apa?

"Kalian harus mengerjakan tugas kalian  sendiri ya. Tiap anak bertanggung jawab pd tugasnya masing- masing. Boleh bertanya kalau tidak   bisa. Tidak boleh hanya menyontek, tidak mau berpikir .

"He he,"Avan yang malas tersenyum malu. Juga Mahri si tukang nyontek.

Ketiga anak itu mengerjakan tugas di saung. Angin sejuk membuat anak -anak merasa betah dan nyaman..

Alhamdulillah, Olan bersyukur. Ia kini bisa mengikuti pembelajaran daring tiap hari. Tak lupa Olan berdoa agar jahe emak banyak pembelinya. Uang yang terkumpul nanti sebagian  akan digunakan untuk membeli ponsel pintar. Nah ,  Olan nanti bisa mengikuti belajar daring dengan lebih baik lagi.@

 


              

Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky