Jenius Turun dari Loteng
![]() |
| Gambar Majalah Bobo |
“Jadi kamu nggak mau bantu,” keluh Pito.
“Belajar sendiri dong !” sahut Niken ketus. Pito kecewa.
Ia menggaruk rambut keritingnya,
Niken anak pintar dan jenius. Pak Habibie, Pak Yohanes Surya dan semua orang jenius di dunia adalah idolanya. Sayang Niken tak suka berbagi ilmu. Contohnya tadi pagi di kelas, ia tak mau mengajari Pito, teman sekelasnya matematika. Selain itu jangan coba-coba mengganggu Niken saat belajar. Niken bisa marah besar. JANGAN BERISIK, SEDANG BELAJAR ! Tulisan itu menggantung di pintu kamarnya.
Sore ini, ada berita mengejutkan. Untuk sementara Niken akan tinggal di rumah tantenya. Besok papa mamanya harus bertugas di Papua
selama sebulan.
Esoknya sepulang sekolah Niken tiba di rumah Tante Dias.
Tante Dias gembira sekali. Ia mengantar Niken ke kamar atas. Niken yang capek
langsung tidur.
Baca juga yuk : Mobil Terbang Daffa
Sorenya Niken bangun. Ia turun untuk mandi. Ketika naik
lagi ke loteng Niken heran, kamar yang tadinya sunyi, tiba-tiba berisik. Niken
membuka jendela.
“MI AYAM!”
“IKAN SEGAR, SAYUUURRR...!”
DHOK, TING, SRENGGG...
Tepat di bawah jendela gerobak berjajar lapak
berderet-deret puluhan orang lalu lalang menenteng tas belanjaan.
“Pasaar?!” Pekik Niken terkejut “Duh berisik ! Mana bisa
aku belajar,” omelnya.
“Ada apa Niken ?”Tante Dias cepat-cepat naik.
“Tante kok tidak bilang kalau rumah Tante dekat pasar.
“Lo Niken belum tahu ?” Sudah lama sih kamu tidak kemari.
Pasar itu ada sejak empat bulan lalu. Buka setiap jam 5 pagi dan 4 sore,” jelas
Tante Dias.
Uh, Niken kesal sekali. Ia mondar-mandir saja di kamar
karena tak bisa belajar. Tiba-tiba Niken mendengar suara lantang.
“AYO BELI SEMANGKA MENGANDUNG KARBOHIDRAT DAN PROTEIN
YANG SANGAT TINGGI.”
“Hah ?!” Niken melongo. “Siapa yang berteriak itu ? Masa,
semangka dan melon mengandung karboHidrat dan protein yang sangat tinggi ? Uh
Kacau !”
Niken penasaran, melongok keluar jendela, Matanya mencari
orang yang berjualan semangka dan melon. Tetapi ia tidak menemukannya.
Keesokan harinyam Niken makin kesal. Pasar itu makin
berisik. Seperti kemarin sore, ia c
![]() | |
| Gambar Majalah Bobo |
“AYO BELI SEMANGKA MELON MENGANDUNG KARBOHIDRAT DAN
PROTEIN TIINGGI. EMPAT KALI EMPAT DELAPAN BELAS, SEMPAT TIDAK SEMPAT BELILAH
NANAS!”
“Hah?!” Niken melotot. Kacauuu! Tidak boleh dibiarkan.
“Tantee !” Niken turun sambil berteriak.
Tante Dias sedang
menyapu. Niken lalu menceritakan apa yang didengarnya. Seseorang sedang
menyebarkan informasi kacau. Sebagai anak jenius. ia tak suka ada orang yang
berteriak ngaco.
“Yang salah tak boleh dibiarkan, Tan. Bahaya!” kata Niken
tegas.
“Bahaya ?”
“Yang tidak tahu bisa meniru dan ikut-ikutan, gawat, kan
?”
“Lalu apa yang akan kau lakukan ?” tanya Tante Dias.
“Tolong, antar Niken pada penjual buah itu.”
Baca juga yuk : Tina dan Mall Baru
Tante Dias yang tahu persis sifat Niken tersenyum. Ia lalu mengantarkan
Niken ke pasar di samping rumahnya. Niken tak sabar bertemu penjual buah-buahan
yang ngaco itu.
Sampai di pasar, Tante Dias menunjuk seorang anak
laki-laki berambut keriting yang duduk menghadap semangka, melon, nanas, dan
buah lainnya.
“Pi..Pito !” Niken terkejut melihat teman sekelasnya itu.
Pito menoleh. “Hai Ken!” sapanya malu-malu.
“Huh , Pito ! Kamu menyebarkan informasi yang keliru. Zat
gizi utama dalam melon dan semangka adalah vitamin dan mineral. Bukan
karbohidrat dan protein. Dalam semangka dan melon ada provitamin A dan vitamin
C. Mineralnya potasium, kalium, fosfor,” ujar Niken jengkel.
“Oh, gitu ya ?” Pito malu.
“Ada lagi, empat kali empat itu enam belas, bukan delapan
delas, tauuu !”
“Maaf aku tidak bisa matematika. Makanya ajari aku
ya...!”
“Huh, enak saja!”
Niken cemberut. Ia kembali ke rumah Tante Dias. Pito itu
ternyata tetangga Tante Dias.
“Ayah Pito sudah meninggal, Ken. Makanya Pito kini sibuk
membantu ibunya berjualan, ia tak punya waktu buat belajar. Tak ada pula yang
mengajarinya di rumah,” cerita Tante Dias. “ Kalau Niken membantu Pito hebat
lo! Mengamalkan ilmu perbuatan yang mulia.”
Niken tetap cemberut dan kembali ke loteng. Tiba-tiba
Pito berteriak lagi di bawah sana.
“DUA BELAS TAMBAH DUA BELAS SAMA DENGAN DUA PULUH DUA.
BIAR PUAS AYO BELI PEPAYA.”
“Pitooo ngaco lagi! Dua belas tambah dua belas
itu ya dua puluh empat.” Niken gemas ia
cepat turun dari loteng.


Comments
Post a Comment