Kulihat Dari Jendela
![]() |
| Gambar : Majalah Aku Anak Saleh |
Ssst...teman, kuceritakan satu kebiasaan burukku yah ! Aku tuh kalau lagi marah dan ngambek, paling suka mengunci diri di kamar sampai lama banget. Biar tambah seru, sebelumnya kubanting dulu pintunya keras-keras. Simak bunyinya. Brakk....trrrrrerrt...treerrrrt. Yang terakhir itu suara dinding kamarku yang ikut merinding gemetar. Setelah itu aku akan mogok bicara,mogok makan, dan mogok gok lainnya.
Nah kalau acara ngambekku sudah berakhir, tibalah saat yang menyenangkan. Ibu akan menuruti semua keinginanku dan memberiku makanan yang enak-enak. He he asyik kan? Makanya jangan buat Ziti Zubaidah marah. Kalau marah sang putri akan bersembunyi di istana kecilnya yang nyaman.
Suatu siang saat pulang sekolah. Biasaya aku selalu pulang bersama sahabatku. Rahma, Ruri dan Yoni. Bercengkrama sepanjang jalan sambil menikmati pemandangan yang aduhai semrawutnya. Tapi kali ini sepotong kue tart coklat yang kusimpan di kulkas mengalahkan rasa persahabatanku.
Wuss! Aku berlari pulang secepat kijang. Teman-temanku melongo keheranan. Sory yah teman, habis aku lapar banget nih.
“Ibu aku pulang !” Aku melangkah ringan menuju dapur. Ibu pasti berada di sana. Juga kulkas benda yang paling kucari saat ini. Hmm...pasti lezat kue coklat itu. Uh, kenapa kemarin aku tiak mencicipinya yah, sesalku.
Klik yuk : Bebek-Bebek Dekil
“Ibu, aku pul...!” Glek !! Tenggorokanku tercekat. Kulihat Inong adikku berdiri di depan kulkas. Mulutnya mengunyah-ngunyah dengan nikmat sesuatu yang dipegangnya di sebelah tangannya. Sesuatu yang tampak sangat lezat dengan krim coklat dan buah stroberi segar di atasnya. Sesuatu yang sangat mirip dengan...hhaah!!!
“Inong !” Aku menghampirinya cepat untuk menyelamatkan kue yang masih tersisa. Namun dengan tega dimasukkannya pula kue yang tinggal potongan kecil itu ke dalam mulutnya hingga menggelembung.
“Anak nakal !” Kudorong badannya yang gendut. “Rasakan ini!” Jurus cubitku yang super sakit siap mendarat, namun ibu bertindak cepat memegang tanganku erat-erat.
“Cukup Ziti,”pinta ibu. “Mengalahlah, besok ibu belikan lagi.”
“Mengalah terus. Aku gak mau!”
“Itu kueku!” Inong tak mau kalah. “Itu kan sisa kue ulang tahunku kemarin Kalau kakak mau kue seperti itu minta sama ibu supaya merayakan ulang tahun kakak...week!”katanya
“Inong!” kata ibu cepat.
“Salah sendiri kenapa kakak mau ulang tahunnya nggak dirayain!”
Tiba-tiba dadaku bergemuruh. Inong benar seharusnya aku juga merayakan ulang tahunku sebulan yang lalu. Tapi gara-gara ayah dan ibu lebih mementingkan anak itu.
Huh ! Sungguh tidak adil. Tidak adill...!”Tak kusangka aku teringat kembali pada peristiwa yang membuatku urung merayakan ulang tahunku yang ke-10. Dan sekarang hal itu terasa lebih menyakitkan. Mataku basah.
“Yeee...gitu aja nangis,” kata Inong semakin menjadi. Aku tak mampu lagi merahan marah dan kecewa. Ibu cemas melihatku. Tangisku makin deras. Kutinggalkan dapur. Hanya satu tempat yang ingin kutuju saat ini. Yah benar! Aku berlari terus dan brakkk ! trrreerrrt...trrreerrt.
Rasa marahku kini mulai mereda. Aku berjalan menuju jendela besar di kamar. Jendela itu membingkai dengan indah sebuah pemandangan, rumah kecil yang sangat sederhana dan sebatang pohon ceri besar yang tumbuh kokoh di sampingnya.
“Itu dia,” gumamku. Dari balik kaca jendela kulihat seorang gadis cilik berjilbab. Seperti biasa setiap siang ia selalu duduk di bawah pohon Ceri. Menunggu kepulangan ibunya dari berjualan sayur di pasar.
Klik ini juga : Piringmu Tanggung Jawabmu !
Sumi namanya.Tetangga seberang rumahku. Ia yang selalu menarik perhatian orang dengan senyumnya. Ih apa peduliku sih, saat ini kan aku lagi sebal padanya. Sebaall...! Peristiwa sebulan lalu terbayang lagi.
Saat kami pergi ke rumah sakit. Menjenguk Sumi dan adiknya yang terbaring lemah akibat demam berdarah. Aku menyerahkan bantuan uang dari keluargaku. Uang itu seharusnya digunakan untuk merayakan ulang tahunku.
Pipit dan Soleh menghampiri Sumi sambil membawa buku. Mereka duduk mengapit Sumi. Sumi kemudian membacakan buku itu untuk kedua adiknya.
“Wah, rukun sekali mereka,”kataku tulus dalam hati. Aku membandingkannya dengan diriku. Hampir setiap hari aku bertengkar dengan Inong. Inong nakal sih, selalu mau menang sendiri. Mama mau aku mengalah setiap hari. Enak saja! Membacakan cerita untuk Inong ? Uh aku paling malas melakukannya.
“Gledek..gledek...gledek!” bunyi roda kayu gerobak sayur yang didorong Ibu Salma.
“Ibu datang,” teriak mereka terdengar nyaring di telingaku. Ketiga anak itu serta merta berlari menyambutnya dengan gembira. Satu persatu mencium tangan ibu Salma dengan hormat. Ibu Salma terlihat begitu bahagia.
Ibu Salma mengeluarkan bungkusan kecil. Apa isinya ? Mungkin kue murah yang dibelinya dari pasar. Olala Pipit dan Soleh langsung berebut mendapat bagian.
“Lo mana untuk Sumi ?” pikirku. Aku heran melihat Sumi yang hanya berdiri memandang.
“Bagaimana sih, kok kamu diam saja Sumi !”
“Ayo marahlah Sumi. Lakukan sepertiku. Masuk kamar. Tutup pintunya keras-keras. Jangan keluar sebelum mendapat bagianmu.. Aku sedikit berteriak berharap agar angin membawa suaraku ke telinga Sumi.
Tapi ...tunggu Aku lupa ! Sumi tak memiliki kamar sendiri sepertiku. Ia harus berbagi ruang tidur dengan adik-adiknya. Lagipula kamar Sumi tidak berdaun pintu. Hanya ditutup dengan sehelai kelambu. Yahh...
Aku diam menanti apa yang akan dilakukan Sumi. Kulihat Sumi berlari mendekati ibunya. Kemudian membantu Bu Salma yang kelelahan mendorong gerobak masuk ke dalam rumah mereka.
Angin menggoyang daun pohon Ceri. Juga daun pohon mangga di halaman rumahku. Sejuknya menghampiriku. Tiba-tiba saja aku merasa malu. Ingin rasanya menjadi anak sebaik Sumi. Tapi bagaimana caranya yah ?
Langkah pertama kudekati pintu kamar. Dan membukanya. Klikk!
Di muat di Majalah Aku Anak Saleh 01 Tahun XI Muharam 1427 , 2006
Behind The Sory (BTS) :
Apa pemandangan di jendelamu? Itu bisa jadi ide cerita
yang keren lo. Dari jendela kita bisa liat aneka
keseruan, juga hal- hal yang lucu atau menyedihkan.
Ide cerita
ini muncul saat membuka jendela dan melihat pemandangan di depannya. Hm...ternyata
bersyukur itu tidak mudah. Sebab kita selalu merasa ada yang kurang. Padahal
banyak lo anak-anak yang tampak sederhana namun selalu ceria
Yuk buka
jendelamu, dan mulailah menulis apa yang kau lihat di sana.

Comments
Post a Comment