Negeri Tanpa Mengantre
![]() |
| Gambar : Majalah Bobo |
Ninoy seorang pemuda pengelana. Ia telah menjelajahi banyak negeri. Ia sangat menyukai semua kegiatan di negeri yang dikunjunginya, kecuali satu hal, yaitu mengantre. Ninoy paling tidak suka jika harus mengantre. Ia tidak sabaran. Selalu bersungut-sungut dan mengomel sepanjang antrean.
“Ampun lama sekali sih ! Kapan giliranku kalau begini ?” teriaknya gusar.Tapi kini Ninoy tak gusar lagi. Bukan karena ia mau bersabar, tapi karena ia telah menemukan cara untuk mendapatkan antrean terdepan.
Ninoy tiba di negeri Malagasi. Jumlah penduduknya sangat banyak, sementara kekayaan alamnya sangat terbatas. Untuk mendapatkan apapun mereka harus mengantre.
Suatu hari Ninoy merasa lapar. Ia lalu membeli makanan di kedai. Tiba di kedai, ia langsung mengomel. Antrean mengular di depan kedai. Tapi tentu saja Ninoy tak gusar lama-lama. Ia sudah punya cara untuk mengatasinya.
“Bu,bisakah saya mengambil tempatmu ? Anak saya sakit keras. Dia perlu makan sekarang. Saya khawatir sakitnya makin parah kalau saya tak segera mendapatkan makanan,” Ninoy berkata memelas pada seorang ibu yang mengantre di depannya.
Klik ini yuk : Daftar Belanja yang Aneh
Ibu itu merasa iba. “Oh kasihan. Silakan menempati tempatku.” Ibu tadi mundur. Ia memberikan tempatnya pada Ninoy. Ninoy tersenyum nakal. Tapi ia belum puas. Seorang kakek didepannya, jadi sasaran berikutnya.
“Kakek yang baik, bolehkah saya mendahului ? Istri saya hamil tua. Ia harus segera makan. Entah apa yang tejadi kalau saya terlalu lama di sini,” rayu Ninoy dengan wajah memelas.
Kakek itu iba dan memberikan tempatnya pada Ninoy. Kini Ninoy mendapat antrean di depan dan segera mendapatkan makanan. Makanan itu tentu saja dilahapnya sendiri.
Ninoy berkelana lagi dan sampai di pulau kecil. Tak banyak toko di sana, sehingga penduduk harus mengantre bila membeli sesuatu. Tentu saja Ninoy tak suka. Ketika akan membeli telur, lagi-lagi Ninoy harus mengantre. Ia pun kembali menggunakan akal liciknya.
“Pak, saya pengelana kelelahan. Saya tak kuat berdiri. Mohon bisa mendahului,” pintanya pada seorang bapak yang mengantre di depannya. Ia menampakkan wajah lelah agar Bapak tadi memercayainya.
“Oh kasihan, ambillah tempatku,” ujar bapak itu ramah.
“Ambillah tempatku, Kak,” seorang anak tak luput dari bujuk rayu Ninoy.
“Silakan pemuda yang malang,” seorang nenek memberi tempat bagi Ninoy.Tapi tak semua orang bersedia. Seorang pemuda menggeleng. “Maafkan aku.”
“Apa kau tidak kasihan pada pengelana yang kelelahan ini ?” Ninoy memaksa.
“Bukan begitu, aku sendiri juga harus tiba di rumah dengan cepat.”
“Oh malangnya nasibku, harus mengantre dengan badan capek begini,” keluh Ninoy tentu saja dengan segala tipu muslihatnya.
Klik ini juga : Tas Bolong Ica
”Hey, kalau kau tak mau mengantre. Pergilah ke utara. Di sana ada negeri tanpa mengantre, ” kata pemuda itu.
Negeri tanpa mengantre ? Ninoy penasaran. Baru kali ini dia mendengarnya. Ninoy pun segera menuju ke utara. Di siang hari yang terik, ia tiba. Negeri tanpa mengantre sebuah negeri yang subur. Banyak orang ingin pergi ke sana.
Di gapuranya Ninoy harus berdesak-desakan. Tak ada yang mau mengantre. Semua berebutan masuk dengan cepat. Beruntung Ninoy memiliki tubuh yang kekar. Dengan mudah ia mendorong orang-orang agar memberi jalan untuknya.
“Wua laa…! Sangat cocok untukku, “ Ninoy senang bukan main.
Karena haus, Ninoy membeli minuman. Ada sebuah kedai yang baru saja dibuka. Tiba-tiba terdengar suara ribut. Ninoy terkejut. Orang-orang dari segala penjuru, berbondong-bondong menyerbu kedai. Ninoy ikut agar tak kedahuluan. Di depan kedai semua orang berteriak-teriak.
“Saya duluan, saya duluan. Saya yang datang nomer satu. Minggir !”
“Tidak bisa, giliranmu setelah aku.”
“Hey siapa bilang, aku yang pertama kali datang.”
“Kalian salah, aku yang melihat kedai itu dibuka,” Ninoy ikut berteriak. Tak ada yang mau mengalah. Semua ngotot menjadi yang pertama dilayani.
Auch ! Seseorang terijak kakinya. Marah, lalu memukul orang di dekatnya. BUK. Mula-mula hanya satu pukulan yang melayang. Lalu BAK BUK BAK BUK !
Suasana menjadi sangat kacau. Orang-orang yang mengantre terlibat baku pukul. Ninoy terjebak di dalam perkelahian
Tiba-tiba Ninoy tersenyum licik. Ia teringat tipu muslimat yang selalu dipakainya selama ini.
“Tolong, izinkan aku mendahului. Aku sakit perut,”keluhnya pura-pura.
“Tidak bisa ! Aku sakit gigi !”teriak seseorang di dekat Ninoy.
“Aku sakit gatal-gatal”teriak yang lain. Tak ada yang mau mengalah. Mereka saling dorong dan saling pukul.
“Kacau-kacau!”Teriak Ninoy kesakitan.
Sambil menahan sakit, Ninoy keluar dari kerumunan. I a bergegas meninggalkan Negeri tanpa mengantre. Ia kapok. Tak mau datang lagi ke negeri itu. Penduduknya tak saling menghargai dan sangat mementingkan diri sendiri.
Di negeri
kita ini masih banyak orang yang malas ngantre, padahal sabar mengantre itu keren banget. Supaya gak
bete saat ada dalam antrian panjang, kita bisa baca buku atau buka buka hape.

Comments
Post a Comment