Terjebak di Kolong


https://albumceritaanak.blogspot.com/2020/12/terjebak-di-kolong.html
Gambar : Majalah Bobo


Rere dan Lia  senang main petak umpet. Saat bermain mereka tak mau diganggu. Termasuk oleh ibu. Besok ibu repot sekali. Ada pesanan kue. Ibu pandai bikin kue. Banyak tetangga yang memesan. Rere dan Lia senang sekali sebab ibu akan membuat kue pelangi dan kue lumpia.

“Asyik , bikin lumpia yang banyak ya Bu,” kata Rere.

“Kue pelanginya juga, “ timpal Lia.

“Boleh, tapi bantu ibu ya, ibu pasti repot sekali.”

“Oke,” Lia berjanji membantu menimbang tepung.  Rere akan mencuci peralatan membuat kue.  Wow, ibu senang sekali


Besoknya pukul enam pagi ibu sudah sibuk. Ibu ke kamar Rere dan Lia yang bersebelahan. Lo kamarnya kosong. Ibu mencari-cari “Aduh, mereka pasti sudah pergi bermain.”

“Waaa!” Rere dan Lia muncul dari samping lemari sambil tertawa. Mereka senang berhasil membuat ibu terkejut.

“Aduh, bikin kaget saja. Rere, Lia tolong ke warung, Ibu perlu gula lagi.”

“Yaaah,” Rere dan Lia mengeluh.

“Eh kalian berjanji akan membantu, kan. Ada hadiah kue lo.”

Cemberut Rere mengambil uang dari tangan ibu.

“Cepat kembali, ya. Habis itu mandi dan bantu ibu.”

Rere dan Lia pergi ke warung Bu Min. Di jalan mereka bertemu Niki yang main lompat tali sendirian.

“Main yuk!” ajak Niki. Rere dan Lia setuju.

https://albumceritaanak.blogspot.com/2020/12/terjebak-di-kolong.html
Gambar : Majalah Bobo

Pukul sepuluh pagi. Mereka main petak umpat. Seru sekali. Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing. “Rere....Lia !”

“Gawat, ibu mencari kita,”kata Rere pada Lia.

“Sembunyi saja di rumahku,” saran Niki.

“Betul....betul,” timpal Lia.  Suara ibu makin mendekat.

“Sembunyiii !” Rere memberi komando. Ketiganya berlari ke rumah Niki. Setelah melepas sandal, Lia, Rere, dan  Niki masuk ke ruang depan. 


Klik yuk : Siapa Pencuri Kue Mama


Niki menunjuk sebuah balai-balai antik, yaitu tempat duduk dari kayu besar untuk menonton TV. Balai-balai itu mirip tempat tidur. Rere, Lia dan Niki masuk ke kolong. Kolong balai-balai itu rendah, tak akan mudah terlihat.

”Hihi, keren, ibu pasti tak bisa menemukan  kita di sini,” Rere terkikik.

Suara ibu tak terdengar lagi. Rere, Lia, dan Niki hendak keluar kolong. Namun serta merta terdengar pintu ruang depan terbuka. Ada suara mama Niki dan bunyi ramai yang riang.

“Silakan masuk, silakan masuk !” kata mama Niki.


Klik juga ini : Bukit Corona


Ketiga anak itu terkejut. Dari bawah kolong terlihat kaki-kaki bersepatu cepat memasuki ruang depan. Kaki-kaki yang banyak dan bunyi  ramai celoteh para ibu. Beberapa pasang kaki duduk di dekat balai-balai. Bahkan sepasang kaki kecil duduk di balai-balai. Muka Niki pucat.

“Aku lupa. Pukul sepuluh ada arisan.”

“Aduh Nikiii,” teriak Rere tertahan.

“Keluar saja yuk, “ ajak Lia cemas.

“Mana mungkin. Malu !” tolak Rere. Baju mereka kotor. Mereka juga belum mandi. Terdengar suara mama Niki. “Ayo dicicipi kuenya. Kue pelangi dan kue lumpia enak buatan ibu Elvina. Ibu Elvina jago bikin kue.”

Rere dan Lia terbelalak. Jadi kue-kue yang dibuat ibu tadi adalah pesanan mama Niki.

“Terima kasih pujiannya Bu Nina.

Hah, itu suara ibu!

Mama Niki mengeluarkan hidangan yang lain. Bakso, puding coklat, dan es buah sirsak. Aroma lezat menyebar hingga ke bawah kolong.

“Idemu bersembunyi di sini buruk sekali Niki,” bisik Lia dongkol.

“Maaf,”sesal Niki.

Acara tak kunjung usai. Rere, Li dan Niki melihat kaki-kaki hilir mudik. Ibu-ibu menikmati undangan juga anak-anak yang ikut. Rere dan Lia menelan ludah. Lemas, lapar dan dingin. Sungguh tak enak lama-lama di kolong. Kue pelangi dan lumpia habis.

“Eh, kuenya masih ada lo, dirumah. Sebenarnya itu untuk Rere dan Lia.Tapi mereka mungkin bosan,” suara ibu keras sekali. “Sebentar ya saya ambilkan.”

Rere dan Lia terkejut. Ibu datang tak lama kemudian. Membawa piring besar berisi kue. Sebentar saja kue-kue itu habis.

“Kue kita,”Rere dan Lia saling pandang penuh sesal. Saat semua menikmati kue bikinan ibu, mereka malah terjebak di kolong balai-balai.  Acara berakhir juga. Rere dan Lia cepat pulang.

“Dari mana kalian ?”

“Dari.... maafkan kami karena tidak membantu ibu. “ Rere dan Lia berlari masuk kamar takut kena marah. Tetapi eh ibu kok senyum-senyum. Wah ternyata ibu tahu tempat Rere dan Lia bersembunyi. Ibu melihat sandal-sandal mereka di depan rumah Niki.


Dimuat di majalah Bobo Edisi 34, Tahun XLI. Terbit Kamis, 28 November 2013


Behind The Story (BTS) :

Tau gak sih, ide cerpen ini muncul karena   aku pingin bikin cerita dengan judul Terjebak di Kolong. Wah kayaknya keren tuh judul tersebut. Maka mulailah aku memikirkan apa kira-kira isi ceritanya.

Ada dua alternatif, pertama yang menegangkan. Kejar-kejaran dengan penjahat, lalu sembunyi di kolong supaya gak ketemu hingga akhirnya terjebak di kolong, gak bisa keluar karena penjahatnya wira-wiri dekat kolong balai-balai atau tempat tidur,

kedua  menjadi cerita lucu dan mengenaskan. Aku pilih yang kedua.  Jadilah cerita ini. Rere, Lia dan Niki terjebak di kolong. Menyaksikan orang makan dengan lahap sementara kita harus menahan dingin dan lapar, akibat perbuatan kita sendiri.

Rere, Niki dan Lia nama itu ada yang punya yaitu keponakan-keponakanku tersayang.

So , ide cerita bisa dari mana saja. Bisa berasal dari sebuah kata atau kalimat yang menarik perhatian kita.

Setuju ? Silakan tulis komentarmu.

Comments

Popular posts from this blog

Melepas Topeng Frengky